เข้าสู่ระบบKoridor sekolah masih ramai oleh siswa yang baru keluar kelas.Rania berjalan bersama dua temannya, namun langkahnya melambat ketika beberapa siswa dari kelas lain lewat di dekat mereka. Suara mereka tidak terlalu pelan, justru cukup jelas untuk terdengar. “Eh… itu Rania, kan?”, ucap siswa yang melihat Rania lewat. “Yang katanya dulu dekat sama Dipta?”, tanya temannya. Langkah Rania langsung berhenti. Ia tidak menoleh, tapi telinganya menangkap setiap kata. “Terus kenapa malah Aira yang jadi pacarnya?”, tanya siswa lain. “Padahal kan dulu semua orang kira mereka pacaran.” Seseorang tertawa kecil. “Jangan-jangan selama ini cuma Rania yang geer.. kali aja dia yang ngejar Dipta.” Rania merasakan rahangnya menegang, tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya. Temannya yang berdiri di sampingnya langsung menoleh tidak nyaman. “Ran… mereka cuma ngomong sembarangan.” Rania tidak menjawab. Ia tetap berdiri diam beberapa detik, tatapannya kosong ke arah depan. Namun piki
Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Aira baru saja selesai membuat sarapan sederhana untuk dirinya sendiri, roti panggang dan segelas susu. Ia duduk di meja makan sambil memegang ponselnya. Percakapan dengan Dipta semalam masih terbuka di layar, Aira tersenyum kecil tanpa sadar. Ia baru saja akan menggigit rotinya ketika bel rumah berbunyi. 'Ting' Aira mengerutkan kening. “Siapa yang datang pagi-pagi begini…”, gumamnya pelan. Ia berjalan menuju pintu depan. Begitu pintu dibuka, Aira langsung membeku. Dipta berdiri di sana dengan jaket tipis dan tangan dimasukkan ke saku celana, tatapannya santai seperti biasa. “Aku pikir kamu masih tidur”, ucap Dipta santai. Aira masih terlihat sedikit kaget. “Kak Dipta?” “Kenapa?” Dipta menaikkan alisnya sedikit. “Tidak boleh?” Aira cepat menggeleng. “Bukan begitu… cuma… kamu kenapa pagi-pagi ke sini?” Dipta menatapnya beberapa detik, lalu menjawab ringan, “Kamu bilang semalam sendirian.” Aira tidak langsung menjawab.
Suara hujan terdengar pelan di luar jendela apartemen. Rintiknya jatuh perlahan di kaca, menciptakan irama lembut yang menenangkan. Aira membuka matanya perlahan. Beberapa detik pertama, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran masih kosong, lalu kesadarannya kembali sedikit demi sedikit. Ruangan itu terasa hangat, selimut tebal menutupi tubuhnya, saat Aira bergerak sedikit ia langsung menyadari sesuatu. Tubuhnya terasa berbeda, ada rasa pegal yang halus dan sedikit nyeri yang membuatnya menahan napas sejenak. Aira menoleh ke samping, tempat di sebelahnya kosong. Ia langsung menarik selimut lebih tinggi, menyadari tubuhnya yang masih polos, pipinya memerah. Jam digital di meja samping tempat tidur menunjukkan 15.07. “Aku… tidur selama itu?”, gumam Aira pelan. Baru saja ia hendak duduk ketika pintu kamar terbuka perlahan, Dipta masuk. Di tangannya ada dua cangkir, begitu melihat Aira sudah bangun, langkahnya sedikit berhenti. “Kamu sudah bangun.” Aira menatapnya, en
Koridor pagi itu cukup ramai, beberapa siswa masih berlalu-lalang menuju kelas masing-masing. Namun seperti biasa, kehadiran Dipta tetap menarik perhatian beberapa orang yang lewat. Aira berhenti tepat di depan Dipta. “Kenapa?”, tanya Aira pelan. Dipta menatapnya beberapa detik sebelum menjawab. “Tidak boleh?” Aira mengerutkan dahi. “Datang ke kelasmu?”, lanjut Dipta lagi. Aira menyilangkan tangan di depan dada. “Biasanya kamu tidak ke sini.” Dipta memang jarang datang ke kelas Aira. Biasanya mereka bertemu setelah jam pelajaran selesai. Dipta mengangkat bahu ringan. “Sekali-sekali.” Aira menatapnya curiga. “Kamu pasti ada maunya.” Dipta tidak langsung menjawab, tatapannya justru turun ke tangan Aira yang memegang buku. “Sudah sarapan?” Pertanyaan itu membuat Aira terdiam sesaat. “Apa hubungannya?" Dipta memasukkan tangan ke saku celana. “Jawab saja.” Aira menghela napas kecil. “Sudah.” Dipta menyipitkan mata sedikit. “Jujur.” Aira akhirnya menyerah. “Belu
Pagi di kantor pusat Mahesa Group berjalan seperti biasa. Deretan laporan menumpuk rapi di meja kerja Hadiyasa Mahesa. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca besar membuat ruangan itu terasa terang, namun wajah pria paruh baya itu tetap terlihat serius. Satu per-satu berkas ia buka, memeriksa angka, membaca ringkasan proyek, lalu menandatangani beberapa dokumen yang membutuhkan persetujuannya. Hingga sebuah laporan lain berhenti di tangannya, berkas itu berasal dari divisi kerja sama bisnis. Tentang perusahaan asing yang baru membuka cabang operasional di kota ini. Hal seperti itu sebenarnya bukan hal baru. Kota ini memang sedang berkembang pesat, dan banyak perusahaan luar mulai menanamkan investasi. Namun saat matanya bergerak ke bagian struktur manajemen cabang tangannya berhenti. Satu nama tercetak jelas di sana, Arjito Rajendra sebagai Direktur Operasional. Hadiyasa membaca nama itu sekali lagi, seolah memastikan bahwa penglihatannya tidak keliru. Ruangan yang tadi ter
Halaman SMA Garuda sudah ramai sejak bel istirahat berbunyi. Suara siswa bercampur dengan derit kursi yang digeser dan langkah-langkah terburu menuju kantin. Di salah satu meja dekat jendela kantin, Humaira Navya Aruna atau Aira duduk bersama dua sahabatnya, Nadhira dan Lestari. Nadhira baru saja menaruh nampan makanannya di meja dengan ekspresi kesal. “Serius deh, aku nggak ngerti sama Bu Ratna”, gerutunya sambil menyodok nasi di piring. “Dibilang cuma latihan, tapi nilainya masuk penilaian harian.” Lestari tertawa kecil sambil membuka botol minumnya. “Namanya juga guru, latihan sama ujian itu kadang cuma beda nama.” Biasanya Aira akan ikut mengomentari panjang lebar. Ia termasuk orang yang cukup vokal kalau membahas hal-hal seperti ini, namun kali ini ia hanya tersenyum tipis. “Ya… mungkin biar kita lebih siap ujian.” Nadhira mengangkat alis. “Lho? Kamu biasanya paling semangat protes.” Aira hanya mengangkat bahu ringan. Tangannya sibuk membuka ponsel di bawah meja, seolah menc







