Sore itu di gedung Rajendra Engineering, cahaya matahari mulai miring masuk dari kaca-kaca besar kantor. Aktivitas sudah mulai melambat, tapi suasana justru belum benar-benar tenang. Di lantai direksi, Dipta masih duduk di ruangannya. Tangannya mengetuk pelan meja, sementara layar laptop di depannya masih menyala. Pintu diketuk. “Masuk.” ucap Dipta. Asistennya masuk dengan ekspresi agak ragu. “Pak, bawah masih ramai ngomongin Pak Arjito.” Dipta tidak langsung menoleh. “Masih?” “Iya, Pak. Dari siang sampai sekarang belum reda. Malah makin banyak yang nebak-nebak.” jawab asistennya Dipta menutup laptopnya pelan. “…biarkan saja.” Asistennya sedikit bingung. “Tapi Pak, ini sudah mulai dikaitkan ke sejarah perusahaan dan—” “Semua orang selalu butuh cerita” potong Dipta pelan, tapi tegas. “Kalau tidak diberi fakta, mereka bikin sendiri.” Ruangan jadi hening sebentar. Dipta berdiri, berjalan ke arah jendela. Di bawah sana, kantor masih terlihat sibuk, tapi tidak seramai tad
Read more