LOGINAira masih belum berhenti juga. Nada bicaranya santai, tapi jelas ada sengaja di sana semacam “menarik pelan” reaksi dari orang yang di sebelahnya. “Terus dulu kamu nggak pernah segini jauh jaraknya. Sekarang malah kayak takut sendiri.” Dipta akhirnya menghela napas panjang. Ia tidak kesal mendengar ucapan Aira, justru sekarang ia tau bahwa ini sudah masuk tahap “oke ini disengaja.” “Kamu sengaja ya?” Aira langsung diam sepersekian detik, lalu jawab dengan tenang. “Iya.” Dipta menoleh. “Kenapa?” Aira menatapnya sekilas, lalu kembali menatap langit-langit. “Kamu lucu kalau gini.” Dipta langsung diam. Dan diamnya Dipta justru membuat Aira semakin yakin kalau Dipta terpancing. Aira lanjut pelan, masih dengan nada ringan. “Dulu kamu nggak segini hati-hati... Kalau di kamar, kamu nggak pernah jaga jarak kayak sekarang.” Dipta mengalihkan pandangan sebentar, lalu menjawab pelan tapi jelas. “Dulu beda.” Aira menoleh. “Beda karena apa?” Hening sebentar. Dipta akhirnya menjawab juju
Askara memang bukan anak yang “baru mulai belajar” seperti kebanyakan anak seusianya. Sejak usia sekitar 1,5 tahun, dia sudah terbiasa melihat huruf, angka, dan pola bahasa setiap hari. Bukan dengan cara dipaksa belajar, tapi lewat kebiasaan kecil di rumah yang tanpa sadar membentuknya. Aira sering menulis kadang di notes, kadang di buku kecil untuk urusan pekerjaannya sebagai penulis novel online. Huruf-huruf itu sering dibuat besar, sengaja, karena ada satu “pembaca kecil” yang selalu penasaran di dekatnya dan pembaca itu adalah Askara. Awalnya hanya menunjuk “Ini apa?” Lalu berubah jadi mengeja pelan. “…A… I… R… A…” Lama-lama anak itu jadi terbiasa. Sampai akhirnya bukan hanya huruf, tapi juga angka, pola, dan logika sederhana ikut masuk tanpa terasa. Sekarang, saat masuk usia playgroup, Askara sudah jauh lebih maju dibanding anak seusianya. Dia sudah bisa membaca kata-kata sederhana dengan cukup lancar, mengenali angka tanpa ragu, bahkan mulai memahami konsep dasar penjumlahan
Sore itu, sekitar jam empat lewat sedikit, suasana rumah mulai berubah lagi. Bukan jadi sepi total tapi jelas lebih ringan. Indri Mahesa dan Hadiyasa Mahesa sudah lebih dulu pamit, disusul Arjito Rajendra dan Linda yang juga akhirnya pulang setelah obrolan panjang yang terasa seperti reuni masa lalu yang terlalu jujur untuk ukuran satu hari. Begitu mobil terakhir keluar dari halaman, rumah itu langsung terasa lebih “longgar”. Aira berdiri di dekat pintu, masih sedikit melamun, seperti otaknya belum selesai memproses semua cerita tadi. Di belakangnya, Dipta baru saja menutup pintu. “Capek?” tanya Dipta pelan. Aira menoleh, lalu menghela napas panjang. “Capek sih. Tapi lebih ke… penuh.” Dipta mengangguk kecil. “Hari ini memang terlalu banyak sejarah yang keluar sekaligus.” Dari ruang tengah, suara kecil terdengar. Askara masih sibuk sendiri, main tanpa peduli dunia orang dewasa yang barusan “rapat besar keluarga”. Aira melirik ke arah suara itu, lalu sedikit tersenyum. “Tapi aneh
Begitu semua sudah masuk, suasana rumah Dipta langsung berubah dari “kunjungan mendadak” jadi “piknik keluarga yang tidak direncanakan”. Dari arah dapur, terdengar suara plastik kresek dan kotak makanan diturunkan satu per satu. Indri Mahesa datang dengan dua tas besar. “Ini Bunda masakin sup, sama lauk ringan.” Belum selesai bicara, dari belakang Linda sudah menyusul sambil meletakkan beberapa kotak. “Ibu bawa makanan favorit kamu juga.” Aira yang berdiri di ruang tengah langsung diam. “Ini rumah atau acara potluck…” gumamnya pelan. Di sisi lain, Askara sudah lebih dulu “sibuk”. Dia duduk di karpet ruang keluarga, membuka satu persatu cemilan yang dibawa Indri dan Linda. “Ini buat aku semua?” Indri langsung tersenyum. “Iya, tapi jangan makan banyak-banyak dulu ya.” Linda ikut menambahkan sambil mengelus kepala Askara. “Kalau ini habis, nanti nenek bikin lagi.” Askara langsung mengangguk serius. “Aku akan evaluasi kualitasnya.” Aira hampir tersedak tawa kecil dengar i
Perubahan kecil itu mulai kelihatan dari rutinitas harian Aira. Kalau dulu dia masih sering pulang ke rumah orang tuanya, sekarang arah pulangnya pelan-pelan bergeser. Lebih sering ke rumah Dipta . Bukan karena “sudah diumumkan ke dunia luar”, tapi karena di titik ini, itu terasa paling aman dan paling tenang untuk sementara. Awalnya Aira masih canggung. Namun lama-lama, ritme itu terbentuk sendiri. Pulang kerja, makan, istirahat, urus hal kecil rumah, tidur. Sederhana, namun tetap stabil, dan yang paling menarik justru bukan itu. Justru perubahan kecil dari Aira terhadap Askara. “Papa pinjaman.” begitu Askara menyebut Dipta dengan santai, tanpa beban, seperti nama panggilan yang sudah jadi kebiasaan. Dipta awalnya hanya diam mendengar itu. Lalu menatap Askara sebentar. “Pinjaman?” Askara mengangguk polos. “Soalnya papa asli aku belum bisa bareng aku terus.” Aira yang mendengar itu langsung terdiam sebentar. Tidak ada nada sedih yang berlebihan, hanya ada sesuatu yang pelan-pela
Iya, itu justru jadi garis penting yang mereka jaga ketat. Di dalam mobil itu, meskipun suasana mulai lebih tenang, ada satu hal yang tidak berubah: status mereka tetap “tidak diumumkan”. Aira masih memilih diam. Bukan karena tidak percaya, tapi karena situasi di luar belum stabil rumor, tekanan kantor, dan bayang-bayang Andine yang belum selesai benar-benar diputus. Dipta juga tidak memaksa. Dia paham, ini bukan soal ingin disembunyikan selamanya tapi soal waktu yang belum aman. Di perjalanan, Aira sempat bicara pelan tanpa menoleh. “Soal kita… tetap kayak kemarin ya.” Dipta langsung paham maksudnya. “Iya.” jawabnya singkat. Aira melanjutkan, lebih pelan lagi. “Di kantor… tetap biasa.” Dipta mengangguk. “Tetap profesional.” Hening sebentar. Dipta menambahkan, suaranya tenang. “Aku nggak akan maksa kamu ngakuin apa pun ke siapa pun. “…sampai kamu siap.” Aira diam lama. Lalu pelan menjawab. “Aku belum siap.” “Aku tahu.” jawab Dipta singkat, tanpa nada kecewa, tanpa tekanan. A
Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb
Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena
Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan
Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b







