Home / Romansa / DIPTA / BAB 85 Arjito Rajendra

Share

BAB 85 Arjito Rajendra

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-05-22 23:44:01

Malam itu, Dipta tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Mobilnya justru berhenti di kediaman keluarga Mahesa. Rumah yang sudah lama ia kenal, tapi jarang benar-benar ia datangi untuk membahas hal “serius” seperti malam ini. Di ruang kerja rumah itu, Hadiyasa Mahesa sedang duduk dengan beberapa dokumen di meja. Lampu ruangannya tidak terlalu terang.

Saat Dipta masuk, Hadiyasa langsung menutup map di depannya. “Tumben malam-malam ke sini.”

Dipta tidak langsung duduk. “Aku mau tanya sesuat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 125 Karena Arjito

    BAB 144 – Yang Tidak Pernah Benar-Benar Bisa Datang Aira masih duduk di tepi ranjang. Bingkai foto itu ada di pangkuannya, tapi pandangannya tidak lagi fokus ke sana. Matanya sesekali naik ke arah Dipta yang baru saja kembali masuk kamar. Dipta tidak langsung duduk. Dia hanya berdiri sebentar, seolah menimbang bagaimana harus memulai lagi setelah semua kalimat sebelumnya. Lalu akhirnya dia duduk, lebih pelan dari tadi. Aira membuka suara lebih dulu. “Kamu tadi bilang kamu nggak ada di sana… kamu nggak ada waktu aku melahirkan.” Dipta mengangguk kecil. “Iya.” Aira menatapnya lebih tajam. “Di mana kamu waktu itu?" Dipta menarik napas. Suara yang keluar setelahnya lebih pelan. “Belanda.” Hening sejenak. “Aku lagi kuliah waktu itu.” Aira tidak langsung bereaksi. Tapi jarinya yang menggenggam bingkai itu menguat. Dipta melanjutkan, lebih hati-hati sekarang. “Aku baru tahu kamu melahirkan satu hari setelahnya.” Aira langsung menoleh. “Satu hari setelah?” Dipta mengangguk. “Iya...

  • DIPTA   BAB 124 Terbuka

    Dipta keluar dari kamar. Langkahnya pelan, tapi jelas arah tujuannya. Reyhan Pratama masih di ruang luar, duduk santai sambil memeriksa beberapa catatan kecil dari kondisi sebelumnya. “Udah sadar total?” tanya Reyhan tanpa mengangkat kepala. Dipta mengangguk. “Lebih stabil.” Reyhan melirik sekilas. “Secara fisik iya... tapi mentalnya?” Dipta diam sebentar. “Lagi proses.” Reyhan menghela napas kecil. “Dia orang kuat, tapi tadi itu bukan situasi kecil.” Dipta tidak membantah. “Aku cuma mau pastikan dia nggak sendirian terlalu lama di dalam.” Reyhan mengangguk santai. “Iya, biarin dia adaptasi dulu.” Dipta mengangguk sekali, lalu pergi ke arah dapur kecil rumahnya. Aira sendirian di kamar, duduk diam. Tidak ada suara langkah Dipta lagi di luar. Awalnya dia hanya diam. Menatap lantai, menata napasnya sendiri tapi kemudian matanya bergerak. Ke sisi kamar dan ke nakas. Ada sesuatu di sana, sebuah bingkai foto kecil. Aira mengerutkan kening pelan. "Itu…" Dia bangkit perlah

  • DIPTA   BAB 123 Pasca Jebakan

    Mobil melaju cepat keluar dari area hotel. Dipta tidak menoleh ke belakang lagi. Di kursi penumpang disampingnya, Aira dalam kondisi tidak stabil. Napasnya tidak teratur, tubuhnya gelisah, seperti tidak bisa menemukan posisi yang nyaman. “Ka…k…” Suara itu pecah pelan. “Dipta…” Dipta langsung menegang di kursi depan. "Tolong… badan aku… nggak enak… panas…” Suara Aira bergetar dan itu cukup memberi penjelasan. Dipta langsung sadar. Ini bukan sekadar pingsan atau lemah, ini pola yang pernah dia lihat dulu. “Obat itu lagi…” gumamnya pelan. Kali ini lebih parah, lebih cepat dan lebih tidak terkendali. Aira tiba-tiba bergerak gelisah, hampir mengenai kursi depan. Dipta refleks menahan setir lebih kuat. “Aira, tenang.” Tapi Aira tidak benar-benar sadar. “Jangan… jangan pergi…” Aira langsung menyerang Dipta, yaa dia menarik lengan Dipta dan memposisikan tubuh naik dipangkuan Dipta, bibirnya menyentuh kulit leher Dipta. Membuat Dipta mengambil keputusan cepat di mobil. Dipta mena

  • DIPTA   BAB 122 Amarah Dipta

    Pagi di Jakarta tidak lagi terasa biasa. Di beberapa kanal berita bisnis, forum internal, dan media sosial profesional, narasi tentang Aira mulai berubah arah. Bukan karena rumor berhenti namun karena “dibantah dengan cara yang tepat”. Hadiyasa Mahesa tidak banyak bicara di publik. Namun timnya bergerak cepat di belakang layar. Sementara itu di Rajendra Engineering, Dipta Niskala Mahesa sudah menyiapkan satu pola, bukan klarifikasi emosional, hanya koreksi data. Internal memo & media counter. “Tidak ada hubungan struktural pribadi dalam proses kerja Aira di perusahaan.” “Seluruh akses dan jabatan diberikan berdasarkan evaluasi kinerja internal.” “Isu pribadi tidak memiliki relevansi terhadap operasional perusahaan.” Bahasanya memang di buat dingin namun sangat mengguncang dan efektif. Dipta juga memberi satu kalimat tambahan Di dalam meeting internal, dia hanya berkata, “Kita tidak membalas rumor dengan emosi, kita balas dengan fakta yang tidak bisa dipelintir.” Di

  • DIPTA   BAB 121 Belum Usai

    Gedung Rajendra Engineering hari itu terasa berbeda. Bukan karena aktivitas tapi karena satu nama yang mulai mengubah cara semua orang bekerja. Arjito Rajendra, setelah kehadirannya kemarin, tidak ada lagi yang menganggap ini kunjungan biasa. Pagi ini, berubah jadi sesuatu yang lebih serius. Ruang meeting internal, semua kepala divisi sudah dipanggil. Tidak ada agenda resmi sebelumnya dan tidak ada email panjang, hanya satu kalimat. “Audit internal langsung oleh pemegang saham mayoritas aktif.” Bisik-bisik mulai muncul. “Pemegang saham?” “Bukannya ini perusahaan Dipta yang jalan?” “Tunggu, Pak Arjito masih punya saham?” Arjito masuk Pintu terbuka. Langkahnya tenang, tidak membawa banyak orang. Hanya satu folder kecil di tangan, ia duduk tidak banyak basa-basi. “Kita mulai.” Suara datar tapi langsung membuat ruangan diam total. Di sisi kanan Arjito ada Dipta tidak bicara banyak, hanya membuka laptop dan menyiapkan data real-time. Aira duduk di sebelahnya, lebih t

  • DIPTA   BAB 120 Orang Lama Kembali Muncul

    Malam sudah benar-benar larut ketika mobil memasuki area rumah. Lampu pagar Arjito Rajendra sudah menyala dari tadi dan dia sudah berdiri di depan pintu rumah. Diam, tegak seperti memang menunggu sejak lama. Di dalam mobil, Aira baru membuka mata pelan. “Udah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” Aira menghela napas kecil. “Aku ketiduran lagi.” Dipta melirik sekilas. “Kamu capek.” ucanya singkat tapi ada maknanya. Mobil berhenti, Aira turun duluan. Baru dia sadar, Arjito sudah berdiri di depan. Tatapannya tidak keras tapi juga tidak ringan. Aira langsung sedikit menunduk. “Ayah…” Arjito hanya mengangguk. “Masuk.” perintah Arjito singkat, tidak ada pertanyaan dulu. Dipta turun terakhir. Pandangan mereka bertemu, cukup lama tak ada yang memutus. Lalu, Arjito menoleh ke Dipta. “Kamu ikut masuk.” Nada datar dan jelas. Di dalam rumah, Aira sempat melangkah ke arah tangga. Arjito langsung berkata pelan, “Kamu mandi. Istirahat.” Aira berhenti. “Tapi Yah—” Arjito memoto

  • DIPTA   BAB 104 Canggung

    Pintu kamar tertutup pelan. ‘Klik.’ Aira bersandar beberapa detik di balik pintu. Tangannya masih menggenggam handle pintu, seolah belum benar-benar siap melepas momen barusan. “Kenapa sih aku ngomong sejauh itu…" gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya melepas tangannya dan m

  • DIPTA   BAB 100 Bekal

    Ruang meeting akhirnya benar-benar kosong. Tamu sudah pergi, dokumen sudah ditutup dan suasana kantor perlahan kembali ke ritme normal walaupun jam sudah lewat cukup jauh dari jam makan siang. Aira masih duduk di ruang meeting kecil yang tadi dipakai. Laptopnya sudah ditutup tapi dia belum berger

  • DIPTA   BAB 97 Amarah Dipta

    Mobil melaju pelan menembus jalan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, membentuk bayangan yang bergerak pelan seiring laju kendaraan. Di dalam hening, Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya tetap di setir, pandangan lurus ke depan tapi pikirannya tidak di j

  • DIPTA   BAB 94 Belanjaan

    Aira masih berdiri di depan rak susu, mencoba mengembalikan fokusnya setelah kejadian barusan yang jujur saja, cukup membuat kepalanya sedikit “panas dingin”. Troli di depannya sudah hampir penuh. Ia mengambil satu kaleng susu formula, memperhatikan labelnya sebentar, lalu tanpa ragu memasukkannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status