Beranda / Romansa / DIPTA / BAN 82 Sindiran dan Cerminan Diri

Share

BAN 82 Sindiran dan Cerminan Diri

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 23:55:07
Perjalanan pulang dari hotel menuju kantor Rajendra Engineering berlangsung seperti biasa—tenang, tapi heningnya terasa “berisi”. Dipta memilih menyetir sendiri sejak awal keberangkatan. Tidak ada supir, tidak ada pihak ketiga. Hanya dia dan Humaira Navya Aruna di kursi sebelah.

Di dalam mobil, Aira awalnya sibuk melihat jalanan dari jendela. Tapi lama-lama, dia mulai merasa suasananya agak berbeda.

“Pak.” panggilnya pelan.

Dipta tidak langsung menoleh. “Hm? jawabnya singkat.

“Tadi meeti
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIPTA   BAB 153 Aku Memilih Kamu

    Begitu Aira masuk ke butik perhiasan itu, suasananya langsung terasa tenang dan rapi lampu hangat, kaca-kaca display yang memantulkan kilau emas dan berlian, serta pelayan toko yang menyambut dengan senyum sopan. Aira awalnya tidak langsung bicara banyak. Dia hanya berjalan pelan, melihat-lihat beberapa cincin yang dipajang, sampai akhirnya matanya berhenti di satu etalase khusus. Cincin yang ada di jari manisnya sendiri. Bukan yang baru dia pakai hari ini, tapi yang sudah lama bersama dia. Yang Dipta berikan, yang tidak pernah dia benar-benar pikirkan “nilai” nya, karena sejak awal itu terasa lebih seperti sesuatu yang personal. Aira menoleh ke pelayan toko. “Kalau model cincin kayak yang ini… kira-kira harganya berapa ya?” Pelayan itu sedikit terdiam. Matanya langsung fokus ke cincin di jari Aira, ada jeda sejenak terlihat. “Boleh saya lihat sebentar, Nyonya?” Aira mengangguk, lalu dengan hati-hati melepas cincinnya dan menyerahkannya. Gerakannya pelan, hampir refleks menjaga s

  • DIPTA   BAB 152 Tempat Pulang

    Sore itu udara Jakarta tidak terlalu panas, tapi juga tidak benar-benar sejuk. Cukup nyaman untuk keluar sebentar setelah seharian berada di rumah dan kantor. Aira sudah siap lebih dulu. Kuncir rambut sederhana, kaos santai, dan daftar belanja di ponselnya yang entah sudah sepanjang apa. Dipta baru keluar dari kamar kerja setelah dipanggil dua kali. “Ayo, belanja bulanan.” Dipta melirik sekilas. “Belanja bulanan?” Aira langsung mengangguk. “Iya. Yang di rumah itu udah hampir habis semua.” Dipta berjalan mendekat, melihat layar ponsel Aira yang penuh catatan. “Sejak kapan jadi sepanjang itu?” Aira menatapnya datar. “Sejak kamu nggak tinggal sendiri lagi.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup bikin Dipta diam sebentar. Biasanya, belanja di rumahnya memang jarang dilakukan dalam skala besar. Dulu dia hidup sendiri, kebutuhan stabil, pola makan sederhana, barang pun tidak banyak berubah. Sekarang? Semua berubah tanpa terasa. Di mobil perjalanan ke supermarket besar, Aira duduk di ku

  • DIPTA   BAB 151 Bersyukur

    Hari-hari di Bandung akhirnya berjalan lebih tenang setelah itu. Tidak ada lagi drama besar, tidak ada lagi “serangan mendadak” seperti hari pertama dan kedua. Aira lebih banyak menjaga jarak bukan karena berubah pikiran, tapi lebih karena masih kapok. Sementara Dipta, entah karena sudah “menang banyak” atau memang mulai lebih bisa mengontrol diri, dia juga tidak lagi seagresif itu. Kembali ke mode normalnya dingin, fokus, profesional saat kerja tapi tetap hangat kalau hanya berdua dengan Aira. Mereka menyelesaikan semua urusan di Bandung dengan lancar. Meeting, cek proyek dan koordinasi vendor, sampai akhirnya hari terakhir tiba. Sejak pagi ponsel Aira sudah tidak berhenti berdering. Bukan dari klien dan bukan dari kantor. Tapi dari rumah, video call kembali masuk. Aira mengangkat dan seperti biasa layar langsung dipenuhi wajah kecil yang sudah sangat mereka rindukan. “MAMAAAAA!” Suara Askara langsung memenuhi ruangan. Aira langsung tersenyum. “Iya, sayang…” “Pulang!” ucapnya

  • DIPTA   BAB 150 Habbit

    Baru beberapa menit Dipta duduk di sofa, mencoba mengalihkan pikirannya ke ponsel. “DIPTAAAA!” Suara Aira menggema dari dalam kamar mandi. Dipta langsung menoleh, alisnya berkerut. “Kenapa lagi...?” Belum sempat ia bangkit, suara Aira kembali terdengar. “Handukku mana?!” Nada suaranya jelas panik. Dipta langsung menghela napas panjang, kepalanya sedikit menengadah. “Ya Allah…” Dia sudah bisa menebak, istrinya ini pasti lupa lagi. Akhirnya Dipta berdiri dari sofa, berjalan ke arah lemari, mengambil satu handuk bersih. Langkahnya menuju kamar mandi tapi berhenti tepat di depan pintu. “Kenapa nggak dari tadi dibawa?” tanyanya, sedikit menahan nada kesal. Dari dalam kembali suara Aira terdengar. “LUPA!” Jawaban cepat, tanpa rasa bersalah. Dipta menutup mata sebentar. “Biasa.” Dia mengangkat tangan yang memegang handuk, mengetuk pintu pelan. “Nih.” Pintu tidak langsung terbuka. “Buka dikit aja.” kata Aira dari dalam. Dipta mengernyit. “Dikit aja?” “Ya iya! Masa lebar-lebar?!”

  • DIPTA   BAB 149 Depan Minimarket

    Dipta baru saja keluar dari minimarket dengan wajah yang sudah kembali datar seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa di dalam tadi. Begitu sampai di dekat Aira, aroma tahu gejrot langsung menyambut. Aira masih berdiri di depan gerobak, mangkuk kecil di tangannya, sesekali meniup pelan sebelum memakannya. Wajahnya terlihat jauh lebih santai… bahkan cenderung menikmati. Berbeda sekali dengan tadi siang. “Lama amat sih.” protes Aira tanpa benar-benar marah. Dipta menyerahkan botol air dan yogurt ke tangannya. “Antri.” Jawaban singkat. Aira menerima begitu saja, tidak curiga sedikitpun. Beberapa detik mereka diam, Aira sibuk dengan makanannya. Dipta hanya berdiri di sampingnya. Sampai akhirnya, Aira melirik sekilas. “Mau?” Sendok kecil itu terangkat, berisi potongan tahu dengan kuah khasnya. Dipta sempat diam, sedikit terkejut. Sangat jarang Aira seperti ini, apalagi setelah tadi siang yang jelas-jelas dia masih kesal. Tapi sekarang malah menyuapinya. Tanpa banyak koment

  • DIPTA   BAB 148 Minta Maaf

    Suasana yang tadi sempat canggung perlahan mencair. Angger mengajak mereka duduk di salah satu meja dekat jendela. “Duduk dulu lah, sekalian gue jelasin.” ucapnya sambil menarik kursi. Dipta duduk santai. Aira ikut duduk di sampingnya. Seorang barista datang membawakan minuman. Sepertinya sudah jadi kebiasaan tanpa perlu dipesan. “Masih sama ya ” komentar Dipta singkat sambil melihat gelas di depannya. Angger nyengir. “Ya masa berubah, lu aja yang jarang mampir.” Percakapan mulai mengalir. “Gimana di sini?” tanya Dipta, kembali ke mode serius tapi tetap santai. Angger menyandarkan punggungnya. “Lumayan. Tapi gue sekarang nggak full di sini.” Dipta mengangkat alis sedikit. “Masih intershif?” Angger mengangguk. “Iya. Rumah sakit di Bandung sini.” Aira sedikit terkejut. “Serius kamu jadi dokter?” Nada suaranya spontan. Angger tertawa kecil. “Gue juga dulu nggak nyangka.” Dia menghela napas ringan. “Dulu kan nggak ada niat sama sekali ya. Cuma ya… sejak nyokap sempat s

  • DIPTA   BAB 8 Persaingan & Flirty Close Call

    Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status