LOGINSiang di Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Meeting, laporan, dan ritme kerja yang padat. Tapi sore itu, jam menunjukkan sekitar 15.00 ketika Dipta memanggil Aira ke ruangannya. Aira masuk dengan ekspresi biasa, masih membawa beberapa berkas. “Pak?” Dipta tidak langsung menjawab. Dia menutup file di depannya, lalu bersandar ringan. “Kamu pulang sekarang.” Aira langsung kaget kecil. “Hah? Sekarang?” Dipta mengangguk. "Malam ini kamu ikut saya.” Aira langsung bingung. “Ikut ke mana, Pak?” Dipta menatapnya sebentar. “Makan malam.” jawabnya singkat dan jelas. Aira masih diam. “Makan malam sama siapa?” Dipta menjawab santai, seolah itu hal paling biasa di dunia. "Kolega.” Aira mengernyit. “Kolega perusahaan?” Dipta mengangguk. “Iya.” Aira mulai merasa aneh. “Berapa orang?” Dipta menatapnya sebentar, lalu menjawab ringan: “Banyak.” Aira langsung terdiam. Dipta berdiri, mengambil sesuatu dari meja sampingnya. Sebuah paperbag besar, dia menyerahkannya ke A
Malam itu, Dipta tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Mobilnya justru berhenti di kediaman keluarga Mahesa. Rumah yang sudah lama ia kenal, tapi jarang benar-benar ia datangi untuk membahas hal “serius” seperti malam ini. Di ruang kerja rumah itu, Hadiyasa Mahesa sedang duduk dengan beberapa dokumen di meja. Lampu ruangannya tidak terlalu terang. Saat Dipta masuk, Hadiyasa langsung menutup map di depannya. “Tumben malam-malam ke sini.” Dipta tidak langsung duduk. “Aku mau tanya sesuatu.” Hadiyasa mengangkat alis sedikit. “Tentang Arjito?” Dipta diam sebentar. “Iya.” Hadiyasa menghela napas pelan, lalu bersandar di kursinya. “Akhirnya kamu tanya juga.” Dipta menatapnya. “Kenapa dia muncul sekarang? Dan kenapa sekali dia datang, kantor langsung seperti itu reaksinya?” Hadiyasa tidak langsung menjawab. Matanya sedikit kosong, seperti sedang menarik memori lama yang sudah lama tidak disentuh. “Arjito itu bukan orang biasa di dunia bisnis” akhirnya dia berkata pelan. “…
Sore itu di gedung Rajendra Engineering, cahaya matahari mulai miring masuk dari kaca-kaca besar kantor. Aktivitas sudah mulai melambat, tapi suasana justru belum benar-benar tenang. Di lantai direksi, Dipta masih duduk di ruangannya. Tangannya mengetuk pelan meja, sementara layar laptop di depannya masih menyala. Pintu diketuk. “Masuk.” ucap Dipta. Asistennya masuk dengan ekspresi agak ragu. “Pak, bawah masih ramai ngomongin Pak Arjito.” Dipta tidak langsung menoleh. “Masih?” “Iya, Pak. Dari siang sampai sekarang belum reda. Malah makin banyak yang nebak-nebak.” jawab asistennya Dipta menutup laptopnya pelan. “…biarkan saja.” Asistennya sedikit bingung. “Tapi Pak, ini sudah mulai dikaitkan ke sejarah perusahaan dan—” “Semua orang selalu butuh cerita” potong Dipta pelan, tapi tegas. “Kalau tidak diberi fakta, mereka bikin sendiri.” Ruangan jadi hening sebentar. Dipta berdiri, berjalan ke arah jendela. Di bawah sana, kantor masih terlihat sibuk, tapi tidak seramai tad
Hari itu ruang rapat pemegang saham di gedung Rajendra Engineering terasa lebih tegang dari biasanya. Para direksi sudah duduk rapi. Layar presentasi menampilkan grafik kenaikan yang terus naik tajam, bulan pertama 15%, lalu bulan kedua dan ketiga digabung, total lebih dari 35%. Angka yang terlalu bagus untuk dianggap “kebetulan”. Di kursi utama, Dipta Niskala Mahesa duduk tenang seperti biasa. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Tapi tangannya yang sesekali menyentuh meja, menunjukkan dia tahu hari ini bukan hari biasa. Lalu pintu ruang rapat terbuka, suara kecil gesekan pintu saja sudah cukup membuat beberapa kepala menoleh dan suasana langsung berubah. Arjito Rajendra masuk, sendirian tanpa perwakilan dan tanpa kabar sebelumnya. Beberapa orang langsung saling pandang, ada yang refleks berdiri setengah, ada yang langsung menegakkan duduk. Sudah lama sekali, belasan tahun yang mungkin hampir dua dekade sejak sosok itu benar-benar hadir di ruang ini. Arjito melangkah pe
Perjalanan pulang dari hotel menuju kantor Rajendra Engineering berlangsung seperti biasa—tenang, tapi heningnya terasa “berisi”. Dipta memilih menyetir sendiri sejak awal keberangkatan. Tidak ada supir, tidak ada pihak ketiga. Hanya dia dan Humaira Navya Aruna di kursi sebelah. Di dalam mobil, Aira awalnya sibuk melihat jalanan dari jendela. Tapi lama-lama, dia mulai merasa suasananya agak berbeda. “Pak.” panggilnya pelan. Dipta tidak langsung menoleh. “Hm? jawabnya singkat. “Tadi meetingnya lancar ya?” Aira mencoba membuka percakapan ringan. "Lancar.” jawab Dipta tetap datar. Hening lagi. Aira kembali menatap ke luar jendela. “Aneh banget suasana sekarang…” gumamnya pelan dalam hati. Di sisi lain, Dipta fokus mengemudi. Tangannya stabil di setir. Sementara pikirannya tidak sepenuhnya “kosong”. Masih ada satu adegan yang terus muncul ulang di kepalanya, nomor yang diberikan Aira tanpa ragu dan tanpa curiga. Dipta menghela napas pelan, bukan marah dan bukan juga kaget
Perjalanan dari Puncak menuju Jakarta akhirnya selesai saat mobil memasuki area rumah Aira. Di dalam mobil, Aira bahkan sudah tertidur sejak beberapa puluh menit terakhir. Kepalanya miring ke kaca, napasnya pelan, benar-benar kelelahan setelah rangkaian acara di penginapan Rajendra Engineering. Dipta melirik sekilas ke samping. “Udah sampai.” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Mobil berhenti tepat di depan rumah. Aira langsung terbangun karena guncangan kecil. “Eh?” Ia langsung menegakkan badan. “…sudah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” jawabnya singkat. Aira buru-buru merapikan diri. “Maaf saya ketiduran, Pak…” ucapnya sambil membuka pintu. Ia turun dari mobil, masih agak mengantuk. “…terima kasih banyak ya, Pak.” katanya sopan. Dipta juga turun sebentar, membantu mengeluarkan koper Aira dari bagasi. Gerakannya cepat, rapi, tanpa banyak bicara. Saat Aira sudah siap mengambil kopernya. “Aira.” Dipta memanggil. Aira menoleh. “Iya, Pak?” Dipta menyerahkan sebuah paper ba
Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid
Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp
Mesin mobil masih menyala pdalam Dipta duduk tegak di kursi pengemudi, satu tangan di setir dan satu tangan bertumpu ringan di paha. Ia tidak membunyikan klakson dan tidak mengirim pesan. Ia memang datang tepat waktu, tidak lebih cepat dan tidak terlambat. Rumah Aira cukup sederhana, cat pagarnya
Sabtu pagi, jam menunjukkan pukul 06.12. Padahal biasanya Aira baru benar-benar bangun pukul tujuh saat tidak ada sekolah. Matanya sudah terbuka sejak lima belas menit lalu. Ia menatap langit-langit kamar, diam untuk beberapa waktu. Lalu memiringkan tubuh, mengambil ponsel di meja samping ranjang, t







