Sekujur tubuh Arsel mendadak kaku. Di balik kelopak matanya yang terpejam, visualisasi Kimmy muncul tanpa sensor. Kulit perut Kimmy yang seputih pualam, membulat dengan indah karena benih yang ia tanam di sana. Ia membayangkan permukaan kulit yang kencang itu."Abang mau lihat anak kita, Kim," suara Arsel terdengar berat dan mulai gusar."Nggak usah. Besok saja. Sudah ya, Bang. Aku sudah mengantuk.""Kim, sebentar.""Aku ngantuk, Bang."Arsel menghela napas pelan. "Baiklah. Selamat tidur, Sayang. I love you.""Iya. Selamat tidur juga, Bang. Assalamu'alaikum."Klik. Panggilan terputus sebelum Arsel menjawab salam. "Wa'alaikumsalam." Arsel menjawab lirih sambil mendengkus pelan. Perasaannya jadi campur aduk kalau begini. Kimmy belum pernah menjawab ucapan cintanya.Jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sunyi merayap masuk, tapi di dalam kepala Arsel terjadi huru-hara.Pikiran yang sejak tadi tegang karena Salsa, kini bergeser ke arah yang jauh lebih 'sinting'. Rasa
Read more