Namun Kimmy berbeda. Saat cemburu, wanita itu membangun tembok di antara mereka. Ia menjauh tidak mau dipandang, apalagi disentuh. Wajahnya yang lembut dan cemberut itu bukan membuat Arsel geram, tapi malah gemas. "Sabar, Mas. Bumilnya lagi cemburu itu," bisik Mbak Asih saat Arsel mengambil minum di mini bar.Arsel tersenyum. Lucu sekali sikap Kimmy. Mondar-mandir dengan perutnya yang membesar, bibirnya manyun, dan selalu menghindari tatapan matanya.Setelah minum Arsel masuk kamar dan menghampiri Kimmy yang sedang tersenyum-senyum memperhatikan adegan lucu di layar ponselnya. Saat Arsel duduk di depannya, senyum itu surut."Abang minta maaf, kalau membuatmu tidak nyaman," ujar Arsel meminta maaf lagi untuk yang kesekian kali dalam seharian ini.Kimmy yang mulai mereda itu menoleh sekilas. "Nggak apa-apa, Bang," jawabnya lalu meletakkan ponsel dan naik ke pembaringan. Arsel menyusulnya. Berbaring di belakang Kimmy dan memeluknya. Ia menumpukan dagunya di bahu Kimmy, membiarkan napas
Read more