LOGINSaat bersamaan ponselnya berdering. "Halo, Mbak Asih.""Mbak Kimmy, di mana? Kok lama. Mbak Kimmy nggak apa-apa, kan?""Saya nggak apa-apa, Mbak Asih. Saya masih di toilet. Tadi saya berserempak dengan teman. Makanya saya masih sembunyi," jawab Kimmy lirih tanpa menyebut nama Langit."Di mana teman Mbak Kimmy itu?""Masih di depan toilet, Mbak. Pakai kemeja warna maroon dan membawa ransel.""Oh iya, saya melihatnya. Dia memperhatikan ke lorong toilet. Biar saya alihkan perhatiannya. Nanti Mbak Kimmy langsung keluar menuju lift ya. Turun di parkiran. Di sana Mas Tora sudah menunggu. Nanti saya susul.""Iya, Mbak Asih."Kimmy kembali mengintip dari balik banner di depan lorong toilet. Tampak Mbak Asih menjatuhkan kresek, beberapa buah menggelinding di dekat Langit. Spontan pria itu berjongkok membantunya. Kesempatan ini digunakan Kimmy untuk melangkah cepat ke arah berlawanan. Menuju lift yang kebetulan terbuka karena ada orang keluar. Kimmy langsung masuk."Terima kasih banyak, Mas," u
"Mas Arsel pasti kecapekan. Mengurusi pekerjaan di Surabaya, lalu bolak-balik ke sini hanya untuk memastikan Mbak Kimmy baik-baik saja. Seberapa pun kuatnya fisik seseorang, kalau batin dan tenaganya diforsir terus, pasti tumbang juga.""Sebenarnya saya juga sudah bilang kalau nggak usah pulang ke Pujon akhir pekan ini, karena dia sudah pulang pas saya ulang tahun kemarin."Mbak Asih menghela napas panjang. Ia iba dengan majikannya. Entah sampai kapan begini. Belum lagi kalau akhirnya ketahuan Pak Fardhan, apa mereka akan dipisahkan? Duh, jangan. Mbak Asih tidak sanggup melihat mereka berpisah. Apalagi nanti ada anak.Kimmy melamun dan sedih. Ia masih menatap layar ponsel, membaca ulang pesan singkat dari Arsel yang dikirim sebelum menelepon.[Maaf, Sayang. Hari ini Abang tidak bisa pulang ke Pujon. Sejak semalam Abang demam. Kalau besok membaik, Abang langsung pulang.]Selama ini ia terbiasa menjadi pihak yang dilindungi, yang dimanjakan dengan hadiah dan perhatian tanpa henti. Semen
KAMU YANG KUCINTAI- 55 SakitDi sofa kulit premium ruang tamu, duduk dua orang yang pembawaannya jauh dari kata rendah hati. Mereka orang tuanya Ettan. Pak Cipto, seorang pria dengan seragam batik korpri yang masih melekat, mungkin sengaja ingin menunjukkan statusnya sebagai abdi negara. Duduk berdampingan dengan istrinya.Di seberang mereka, Pak Fardhan duduk didampingi Bu Elok. Sedangkan Arsel masih diam di ruang keluarga. Tubuhnya terasa meriang sejak siang tadi. Dia benar-benar kecapekan."Jadi kedatangan kami ke sini untuk meluruskan berita yang tidak enak ini, Pak Fardhan." Pak Cipto membuka suara. Alih-alih nada penuh sesal, suaranya justru terdengar seperti seorang pejabat yang jumawa. Seolah tak boleh terlihat kerdil di hadapan orang terpandang seperti Pak Fardhan. "Kami ingin memastikan, apa benar tuduhan kalau Ettan menghamili putri Anda?""Ya. Ini bukan tuduhan, tapi kenyataan," jawab Pak Fardhan sambil menilai dua orang yang duduk di hadapannya. Emosinya masih ditahan.P
"Papa khawatir kalau dia harus menggugurkan kandungannya. Papa nggak ingin terjadi apa-apa padanya. Tapi bagaimana kelanjutan kuliahnya kalau dia mempertahankan kehamilannya," gumam Pak Fardhan pelan."Dulu saat hal yang sama terjadi pada Kimmy, Papa sama sekali tidak terlihat khawatir. Papa malah yang paling kencang menyuruh Kimmy menggugurkan kandungannya. Papa tidak peduli meski nyawa Kimmy taruhannya. Padahal yang ingin Papa buang itu adalah darah dagingku. Cucu Papa sendiri. Kenapa sekarang standarnya berubah setelah Salsa yang mengalami hal yang sama?"Pak Fardhan tersentak. Ia mengangkat wajahnya, menatap Arsel dengan sorot mata yang terluka. Namun lidahnya mendadak kelu. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa situasinya berbeda. "Kenapa diam, Pa? Karena Kimmy anak tiri, jadi nyawanya tidak lebih berharga dari reputasi keluarga ini?""Papa sedang pusing. Jangan menambah beban Papa dengan mengungkit masalah itu. Papa melakukan itu pada Kimmy karena kamulah pelakunya. Nge
"Kalau saya setuju saja, Mas Arsel. Lagian melelahkan juga jika lebih lama begini. Saya kasihan sama Mas Arsel yang pontang-panting menempuh perjalanan jauh. Tapi bagaimana dengan Mbak Kimmy?" jawab Mbak Asih sambil menaruh secangkir teh panas di depan bosnya."Saya belum bicara dengan Kimmy.""Seharian kemarin Mbak Kimmy banyak melamunnya. Mungkin pas hari ulang tahunnya, Mas Arsel nggak nelepon, nggak ngasih kabar. Makanya Mbak Kimmy gelisah. Saya pun diam karena ingat pesan Mas Arsel yang ingin membuat kejutan."Senyum terbit di bibir Arsel. Ada rasa hangat menjalar di dadanya. Namun jujur saja, tubuhnya sangat lelah. Pikirannya juga penuh oleh segala permasalahan di Surabaya. "Apa nanti siang saya coba ngobrol sama Mbak Kimmy tentang rencana Mas Arsel mau mengajaknya kembali ke Surabaya?""Tidak perlu, Mbak. Biar nanti saya sendiri yang bicara ke Kimmy. Saya juga harus menyiapkan tempat tinggal juga. Mungkin lebih aman kalau di apartemen yang sama dengan yang saya tempati.""Iya.
KAMU YANG KUCINTAI - 54 Kado "Abang, tahu dari mana aku berulang tahun hari ini? Pasti dari KTP-ku waktu itu, kan?" tanya Kimmy sebelum membuka hadiahnya."Bukan.""Bukan? Terus dari mana?""Abang pernah mendengar mamamu mengucapkan selamat ulang tahun suatu pagi sebelum kamu berangkat kuliah."Kimmy terkejut. "Kapan itu?""Sudah dua tahun yang lalu. Dan Abang mengingat tanggalnya sampai sekarang."Mendengar pengakuan itu membuat Kimmy terpaku. Sungguh tak menyangka, Arsel sengaja mengingatnya dan ia tidak lupa dengan hari ini. "Kamu tadi menangis karena sedih, ya? Ulang tahun sendirian tanpa mama.""Ya." Kimmy mengangguk samar. Ia menunduk teringat akan sosok mamanya. "Biasanya Mama dan ... ah, Mama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun padaku." Kimmy hampir menyebut nama Langit. Tapi di urungkannya. Dia tidak ingin mengecewakan suami yang berusaha datang tengah malam demi hari ulang tahunnya. Walaupun pasti sangat capek setelah pulang kerja.Suasana hening. Sekali pun tak d
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju







