LOGINArsel teringat Bu Arini. Wanita itu punya jaringan yang luas dan tahu sejarah tentang ceritanya dan Kimmy. Arsel bisa minta tolong padanya untuk merekomendasikan dokter kandungan yang bisa menjaga privasi mereka sepenuhnya. Dokter yang bisa menangani persalinan Kimmy tanpa perlu banyak tanya soal administrasi keluarga yang rumit. Arsel dan Kimmy memang memiliki buku nikah. Tapi mereka belum punya KK dan status di KTP masih lajang. Sebab untuk pecah kartu keluarga, Arsel akan berurusan dengan sang papa.Perlahan Arsel bangkit dan keluar kamar. Ia ingin menghubungi Tora. Sewa apartemen lebih baik menggunakan nama sahabatnya itu.🖤LS🖤"Arsel." Bu Elok mencegah langkah putra tirinya saat Arsel melintas di ruang tengah. Sore itu sambil membelikan makan malam untuk Kimmy dan Mbak Asih, Arsel mampir ke rumah papanya.Wanita itu menghampiri Arsel yang berhenti di dekat sofa. "Saya mau bicara sebentar."Arsel mengangguk."Tadi siang, Langit menelepon saya. Dia bertemu Kimmy di sebuah mall di
Arsel mengajak Kimmy masuk kamar. Ia menenteng koper milik istrinya. Sejenak Kimmy memperhatikan kamar sang suami. Catnya di dominasi warna putih dan abu-abu. Ada ranjang ukuran besar dan lemari pakaian. Meja kecil dan kursi di pojok dekat jendela. Ruangan itu separuh dari ukuran kamar Arsel di rumah papanya.Di atas kursi ada tumpukan baju yang masih terkemas rapi di dalam plastik. Sepertinya baru diambil dari laundry.Arsel menarik pelan lengan Kimmy. Kemudian memeluknya erat. Ia menunduk untuk menyatukan kening mereka dan membuat mata mereka saling tatap. "Terima kasih untuk surprise-nya hari ini. Abang benar-benar tidak menyangka kamu akan datang."Kimmy tersenyum sambil melingkarkan lengan di pinggang suaminya. Meski itu terhalang perutnya yang membesar. "Aku berani karena Abang bilang nggak bakalan ada yang datang ke apartemen. Tapi nanti malam, aku sama Mbak Asih nginap di hotel saja, Bang. Khawatir ada yang tiba-tiba ke sini.""Tidak akan ada yang datang," sahut Arsel cepat. S
KAMU YANG KUCINTAI- 56 Jangan Pulang Arsel bangkit dari tempat duduknya setelah menerima telepon dari Tora yang memberitahu kalau sudah ada di depan pintu unit apartmentnya.Kepalanya masih lumayan berdenyut. Efek dari capek, banyak pikiran, dan kurang tidur. Langkahnya gontai menuju pintu. Saat daun pintu itu perlahan terbuka, Arsel terkesiap melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Tidak percaya, tapi itu Kimmy. Ia tak pernah terpikirkan sama sekali istrinya akan datang. Ini benar-benar surprise. "Assalamu'alaikum," ucap Kimmy."Wa'alaikumsalam." Rasa pening di kepala Arsel mendadak buyar, digantikan oleh gelombang bahagia yang menyerbu dada. Tanpa peduli pada Tora dan Mbak Asih yang menenteng barang dan koper, Arsel menarik Kimmy ke dalam dekapannya. Mencium keningnya begitu lama.Tora dan Mbak Asih jadi salah tingkah, lalu buru-buru masuk. Tora kembali menutup pintu. Sedangkan Mbak Asih langsung menuju mini bar, mengeluarkan barang-barang yang dibeli di atas meja.Kimmy mele
Saat bersamaan ponselnya berdering. "Halo, Mbak Asih.""Mbak Kimmy, di mana? Kok lama. Mbak Kimmy nggak apa-apa, kan?""Saya nggak apa-apa, Mbak Asih. Saya masih di toilet. Tadi saya berserempak dengan teman. Makanya saya masih sembunyi," jawab Kimmy lirih tanpa menyebut nama Langit."Di mana teman Mbak Kimmy itu?""Masih di depan toilet, Mbak. Pakai kemeja warna maroon dan membawa ransel.""Oh iya, saya melihatnya. Dia memperhatikan ke lorong toilet. Biar saya alihkan perhatiannya. Nanti Mbak Kimmy langsung keluar menuju lift ya. Turun di parkiran. Di sana Mas Tora sudah menunggu. Nanti saya susul.""Iya, Mbak Asih."Kimmy kembali mengintip dari balik banner di depan lorong toilet. Tampak Mbak Asih menjatuhkan kresek, beberapa buah menggelinding di dekat Langit. Spontan pria itu berjongkok membantunya. Kesempatan ini digunakan Kimmy untuk melangkah cepat ke arah berlawanan. Menuju lift yang kebetulan terbuka karena ada orang keluar. Kimmy langsung masuk."Terima kasih banyak, Mas," u
"Mas Arsel pasti kecapekan. Mengurusi pekerjaan di Surabaya, lalu bolak-balik ke sini hanya untuk memastikan Mbak Kimmy baik-baik saja. Seberapa pun kuatnya fisik seseorang, kalau batin dan tenaganya diforsir terus, pasti tumbang juga.""Sebenarnya saya juga sudah bilang kalau nggak usah pulang ke Pujon akhir pekan ini, karena dia sudah pulang pas saya ulang tahun kemarin."Mbak Asih menghela napas panjang. Ia iba dengan majikannya. Entah sampai kapan begini. Belum lagi kalau akhirnya ketahuan Pak Fardhan, apa mereka akan dipisahkan? Duh, jangan. Mbak Asih tidak sanggup melihat mereka berpisah. Apalagi nanti ada anak.Kimmy melamun dan sedih. Ia masih menatap layar ponsel, membaca ulang pesan singkat dari Arsel yang dikirim sebelum menelepon.[Maaf, Sayang. Hari ini Abang tidak bisa pulang ke Pujon. Sejak semalam Abang demam. Kalau besok membaik, Abang langsung pulang.]Selama ini ia terbiasa menjadi pihak yang dilindungi, yang dimanjakan dengan hadiah dan perhatian tanpa henti. Semen
KAMU YANG KUCINTAI- 55 SakitDi sofa kulit premium ruang tamu, duduk dua orang yang pembawaannya jauh dari kata rendah hati. Mereka orang tuanya Ettan. Pak Cipto, seorang pria dengan seragam batik korpri yang masih melekat, mungkin sengaja ingin menunjukkan statusnya sebagai abdi negara. Duduk berdampingan dengan istrinya.Di seberang mereka, Pak Fardhan duduk didampingi Bu Elok. Sedangkan Arsel masih diam di ruang keluarga. Tubuhnya terasa meriang sejak siang tadi. Dia benar-benar kecapekan."Jadi kedatangan kami ke sini untuk meluruskan berita yang tidak enak ini, Pak Fardhan." Pak Cipto membuka suara. Alih-alih nada penuh sesal, suaranya justru terdengar seperti seorang pejabat yang jumawa. Seolah tak boleh terlihat kerdil di hadapan orang terpandang seperti Pak Fardhan. "Kami ingin memastikan, apa benar tuduhan kalau Ettan menghamili putri Anda?""Ya. Ini bukan tuduhan, tapi kenyataan," jawab Pak Fardhan sambil menilai dua orang yang duduk di hadapannya. Emosinya masih ditahan.P
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang







