Masuk"Tante berharap, kamu bisa menemukan Kimmy, Lang," ujar Bu Elok dengan suara bergetar."Saya akan mencarinya, Tan. Apapun keadaannya, saya akan menerimanya tanpa syarat," ucap Langit begitu meyakinkan.Mendengar itu setitik cahaya menyeruak di hati Bu Elok. Ia teringat cerita-cerita Kimmy tentang Langit, mungkin putrinya juga memiliki perasaan yang sama terhadap pria itu.Pertemuan singkat itu berakhir dengan kesepakatan yang sama, temukan Kimmy terlebih dahulu.Mereka berpisah. Langit memacu mobilnya kembali ke apartemen. Ia teringat peringatan dari sang papa kalau harus tetap berhati-hati. Pak Ndaru mulai menyadari bahwa ada duri di dalam keluarganya sendiri. Kelakuan sang istri mulai tercium busuknya.🖤LS🖤Di villa Batu ...."Bang, kenapa dulu kamu sering sekali mondar-mandir di depan kamarku kalau malam?" tanya Kimmy saat mereka berbaring di kamar. Beberapa bulan lalu menjadi kamar pengantin mereka yang tak tersentuh.Dahi Arsel mengernyit mendengar ucapan istrinya. "Maksudnya?"
Ia tidak tahu bahwa di balik dinding hotel yang megah itu, Arsel telah melindungi dirinya dan Kimmy melalui layanan Incognito Guest. Sebuah protokol privasi yang sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin menghilang dari pencarian."Sudah cukup aku seperti ini untuk kamu," keluh Zareen pelan dengan hati yang perih. Ia ingin menyerah, menerima kenyataan bahwa telah kalah. Namun bagian yang paling keras kepala di dalam dadanya terus memberontak dan masih tidak terima. Rasa cinta dan merasa mereka baik-baik saja yang menutupi kewarasannya.Mereka tidak sedang bertengkar. Tapi Arsel pergi meninggalkan lubang besar yang menganga di tengah-tengah rencana masa depan mereka.Zareen memejamkan mata, membiarkan isak kecilnya pecah di tengah kemewahan kamarnya yang terasa hambar. Logikanya berteriak untuk berhenti dan pergi mencari kebahagiaan baru. Namun sisi hatinya yang lain tetap tertambat. Perasaan yang menolak mati meski pemiliknya telah pergi.🖤LS🖤Kimmy baru saja keluar dari kamar
KAMU YANG KUCINTAI- 49 Berat Berpisah Malam itu di dalam unit sebuah apartemen, Langit terduduk. Cahaya dari layar laptop menyinari wajahnya yang serius.Jemarinya bergerak di atas keyboard. Klik. Masuk. Gagal. Klik lagi. Untuk yang keseribu kali ia mencoba menembus nomor ponsel Kimmy. Namun selalu gagal."Di mana kamu, Kim?" bisiknya resah. Ia diam sejenak memandang kerlip lampu kota dari jendela kaca di atas ketinggian.Langit menghela napas pelan, lalu jemarinya beralih sasaran. Sebuah nama muncul di pencarian. Arsel R. Permana.Ia membuka profil profesional pria itu untuk kesekian kalinya. Foto Arsel yang tampak berwibawa, rapi, dan penuh kendali terlihat dari tatapan matanya. Di sana tertera sebuah nomor ponsel. Langit tahu, melacak lokasi seseorang tanpa izin adalah sebuah pelanggaran privasi. Namun ia terpaksa melakukannya.Tangannya begitu terampil. Kursor bergerak, memasukkan baris-baris perintah pemrograman untuk melacak koordinat sinyal. Ia menahan napas saat bilah pemuat
Kimmy mendekat tepat di samping Arsel. Wajahnya terlihat cemas dan khawatir melihat suaminya yang gundah. Jemarinya yang kecil menyentuh lengan Arsel yang tegang."Ada apa, Bang? Abang, kelihatan resah begitu?" tanya Kimmy pelan dengan suara bergetar. Bukannya menjawab Arsel memejam sejenak. Membuat Kimmy kian gelisah. "Apa Abang lelah? Atau Papa sudah tahu kita di sini?"Arsel tetap bergeming. Ia sengaja mengunci rapat bibirnya, membiarkan keheningan itu menyiksa Kimmy sejenak. Ia ingin melihat sejauh mana wanita ini mengkhawatirkannya, sekaligus ingin meredam gemuruh di dadanya yang ingin meledak setiap kali teringat ucapan Langit. Baru kali ini ia merasakan bagaimana itu cemburu."Bang, jawab. Jangan diam begini, aku takut." Kimmy mulai panik. Arsel akhirnya menoleh. Ia menatap dalam ke manik mata Kimmy. Lantas ia tersenyum, hatinya tidak tega juga. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya ingin melihatmu mengkhawatirkan suamimu saja," jawab Arsel yang tidak mungkin jujur tentang Langit
Hening menjeda. Pak Fardhan menarik napas panjang, berusaha menjaga wibawanya agar tidak runtuh."Ada hal yang bersifat pribadi di keluarga kami, Langit," ujar Pak Fardhan hati-hati. "Satu hal yang membuat Kimmy merasa nggak nyaman dan memilih pergi. Kami pun masih terus mencarinya."Pak Fardhan menutupi peristiwa malam kelam itu dengan rapi. Ia tetap menjadi pelindung bagi Arsel, menutup rapat-rapat aib yang melibatkan anak kandungnya sendiri. Bu Elok pun hanya bisa menunduk, tak berani bicara, terjepit antara rasa sayang pada Kimmy dan rasa takut pada suaminya.Langit memandang Arsel sekilas. Semakin yakin kalau sosok itu pasti yang membuat Kimmy pergi. Sebab Kimmy selalu cerita, merasa tak nyaman karena saudara-saudara tirinya. Sementara yang dipandang, duduk tenang sambil memandang ke luar sana. Meski Arsel sebenarnya sudah merasa panas dingin dan penuh angin ribut di dalam dadanya. "Apapun yang terjadi pada Kimmy, bagaimanapun keadaannya, meski itu terburuk sekalipun saya akan
KAMU YANG KUCINTAI- 48 Aroma Persaingan Perasaan Arsel mulai terusik. Salsa memandangnya sekilas kemudian melangkah mengikuti Mak Karti yang hendak menyuguhkan minum ke depan. Dia juga penasaran dengan sosok Langit yang sanggup melakukan apapun demi seorang Kimmy.Namun Salsa berhenti di balik tembok, pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga yang luas. Jemari lentiknya menyingkap sedikit gorden yang menjadi pemanis di pintu penghubung itu. Tatapan matanya yang tajam menatap sosok pria asing yang duduk tegak di sofa kulit.Pria itu mengenakan kemeja berwarna maroon yang kontras dengan kulitnya yang bersih. Ada aura ketenangan dan sebuah wibawa dari balik bahunya yang tegap."Jadi dia yang bernama Langit? Ganteng juga," batin Salsa. Nama yang akhir-akhir ini sering disebut oleh papa dan mama tirinya.Arsel melangkah melewati pintu penghubung. Ia tidak perlu mengintip seperti adiknya. Lebih baik bertemu langsung dengan sosok pria istimewa di hati istrinya. Ingat itu rahan
"Aku tidak bisa, Pa. Hubungan kami sudah selesai."Pak Fardhan mengatupkan giginya rapat-rapat, menahan geram yang meledak di dada. Baru kali ini Arsel benar-benar melawannya. "Kenapa kamu begitu keras kepala? Atau kamu yang sebenarnya membawa Kimmy kabur dari rumah?"Senyum terbit di bibir Arsel.
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
Mereka melangkah mengikuti pelayan naik ke lantai dua. Ternyata Arsel reservasi menggunakan nama tengahnya, Ravensa. Pria bernama lengkap Arsel Ravensa Permana itu tentu saja sangat berhati-hati. Sebab hal sekecil apapun bisa saja membuat orang lain bisa menemukannya. Tidak banyak yang tahu nama te







