“Aku berangkat dulu ya sayang.”Kaluna yang sedang duduk di meja makan langsung mendongak. “Hari ini ke workshop paman ya?”Satria mengangguk sambil meraih kunci mobil.“Iya.”Kaluna tersenyum kecil. “Kamu deg-degan, enggak?”“Sedikit.” Satria terkekeh pelan.Kaluna bangkit dari kursi sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit buncit.Ia lalu menghampiri suaminya.Tangannya merapikan kerah jaket Satria dengan telaten.“Tenang aja.” Ia mendongak. “Aku yakin pamannya ibu pasti suka sama ide kamu.”Satria tersenyum tipis. “Mudah-mudahan.”Kaluna lalu menggenggam tangan pria itu dan meletakkannya di perutnya sendiri.“Baby juga doain ayah.”Dan seperti biasa—setiap mendengar itu—raut wajah Satria langsung melunak. Dadanya bergemuruh hebat dan semangatnya tiba-tiba membuncah.Cup.Pria itu mengecup kening Kaluna singkat sebelum akhirnya pergi. “Hati-hati di rumah ya sayang.”“Iya sayang.” Kaluna tidak mengantar Satria hingga teras, pagi ini dingin sekali sampai Kaluna meng
Read more