Dan kini tinggal Satria, Kaluna, dan Ratu di meja makan.Sunyi cukup lama. Di bawah meja, Kaluna menggenggam tangan Satria.Satria menoleh dan melalui tatapan, Kaluna meminta Satria mengambil peran.Tiba-tiba Ratu tertawa kecil, suaranya terdengar pecah.“Kayanya aku terlalu banyak mimpi ya?”“Jangan ngomong begitu.” Satria menimpali cepat.Ratu mengangkat pandangan. Pipinya sudah basah, berulang kali dia mengusapnya kasar. Marah.“Aku cuma pengen jadi wanita karir sukses, A.”Satria menatap adiknya lama.“Buat apa aku mati-matian kuliah kalau ujungnya cuma sampai sini.”Satria mengusap kepala adiknya. “Kalau itu memang yang kamu mau .…”Ratu menahan napas. “… Aa dukung.”“Serius?” Sorot mata Ratu kini lebih kuat,Satria mengangguk.“Serius.”“Tapi bapak enggak akan setuju.” Ratu merengek.“Biar Aa yang ngomong.”Kaluna tersenyum.Sementara Ratu benar-benar tampak ingin meraung.Satria melanjutkan dengan tenang.“Kamu enggak salah punya mimpi besar.”Ratu mengan
Read more