Dari bandara, Senja dan Langit langsung menuju rumah orang tua Senja. Begitu mobil berhenti, Senja segera turun dengan tergesa-gesa. Langkahnya nyaris berlari saat memasuki rumah, seolah ada sesuatu yang terus mendesak dadanya sejak tadi. "Mah..." panggilnya pada sang ibu yang sedang duduk menunggunya di sofa ruang tamu. "Senja?" Wulandari seketika berdiri. "Akhirnya kamu pulang juga," katanya sambil memeluk Senja erat, seolah baru bisa bernapas lega setelah melihat putrinya kembali. "Mana Mbak Bulan?" tanya Senja begitu pelukan sang mama terlepas. "Dia di kamarnya. Papamu mengurungnya," jawab Wulandari mendesah berat. "Dikurung?" Senja mengernyit tidak percaya.Sang Mama memasang wajah sedih. "Bulan mengancam akan kabur lagi." "Assalamu'alaikum, Ma," sapa Langit melangkah masuk. Tangannya, terulur mencium punggung tangan Wulandari. "Wa'alaikum salam," jawab Wulandari dengan sedikit canggung. Meski berusaha bersikap biasa, raut ketidaksukaannya masih tampak samar di wajahnya.
Read more