Sore ini Langit pulang lebih awal. Pukul setengah empat ia sudah sampai di rumah. "Dimana istri saya?" tanya Lamgit pada bibi yang sedang sibuk di dapur. "Di halaman samping, Tuan. Bersama Nyonya besar," jawab bibi menunjuk ke arah pintu penghubung antara ruang tengah dan halaman samping. Di kursi teras samping nampak Senja dan Oma Hanna mengobrol santai sambil menikmati teh hangat. Dua wanita beda usia itu tampak sesekali tersenyum. Melihat itu, senyuman tipis terukir di bibir Langit. Akhirnya, setelah dua minggu berlalu, ia kembali melihat Senja tersenyum. Sejak kepergian ayah mertuanya, istrinya itu selalu tampak murung. Tatapannya dingin, ekspresinya datar. Sikap itu bukan hanya ditujukan kepada Bulan dan Arini, tetapi juga kepada Langit. Bahkan, beberapa kali Senja menatapnya dengan sorot mata penuh curiga. Namun setiap kali berada di dekat Oma Hanna dan Mama Wulandari, wajahnya selalu melembut. Sikapnya selalu hangat. Pelan, Langit melangkah menuju teras samping. Tanpa be
続きを読む