"Senja!!"Suara itu memecah riuh parkiran, tajam dan penuh amarah.Senja yang sudah hampir mencapai mobilnya berhenti. Ia menoleh perlahan. Seringai tipis terukir di sudut bibirnya saat melihat sosok yang berlari ke arahnya. Dia Ardan, dengan wajah memerah dan napas memburu."Senja, tunggu!!"Langkah Ardan semakin cepat. Di belakangnya, Galih, Dona, dan Vara menyusul, wajah mereka sama tegangnya.Senja diam di tempat. Seketika ekspresinya berubah, dari tenang menjadi sendu. Matanya meredup, bibirnya bergetar seolah menahan sesuatu.Narendra yang berdiri di sampingnya langsung waspada. Ia melangkah maju, merentangkan tangan di depan Senja, refleks melindungi."Minggir! Aku mau bicara sama Senja!" bentak Ardan, nyaris mendorong.Narendra mengerutkan kening, rahangnya mengeras. Ia hendak membalas, tapi Senja lebih dulu bergerak.Tangannya menarik lengan Narendra, agar mundur. Setelahnya ia maju satu langkah, berdiri tepat di hadapan Ardan."Maaf… aku telat," ucapnya pelan."Jangan pura-p
Read more