Ardan tersenyum tipis. Senyum yang sarat kelicikan, saat melihat tubuh Senja ambruk tak berdaya di lantai. Ia berjongkok perlahan, menepuk-nepuk lengan gadis itu, memastikan."Senja... hei..." panggilnya pelan, lalu semakin keras. "Senja, bangun!"Tak ada respons. Tubuh ramping itu tetap diam, seperti boneka tanpa nyawa. Kilatan puas melintas di mata Ardan. Dengan langkah cepat, ia bangkit, menutup pintu rumah, lalu mengunci rapat.Setelahnya, ia kembali mendekat. Kali ini, seringai lebar menghiasi wajahnya."Setelah ini, kamu tidak akan berani membantahku lagi," bisiknya. "Jadilah anjing peliharaan yang patuh."Tangannya terulur, hendak mengangkat tubuh Senja.Namun tiba-tiba.. "Agh...!" Kepalanya mendadak berdenyut hebat."Kenapa kepalaku pusing sekali..."Ardan terhuyung, memegangi pelipisnya. Napasnya sesak. Pandangannya berkunang-kunang.Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponsel dari saku celana. Baru saja hendak menekan nomor ibunya, Bruuukkk!Tubuhnya jatuh ke lantai. Sunyi k
Read more