Share

Arca Dewi Rengganis

Penulis: Dark_Pen
last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 21:11:11

Jaka mengerang rendah saat tangan Sinta mulai meremas miliknya dari balik celana. Wanita itu terkekeh, pipinya merona merah merasakan gundukan besar dan keras di balik celana Jaka.

“Mbak, anu… saya—”

“Kenapa Jaka?” bisik Sinta manja, matanya menatap Jaka penuh damba.

Jaka menelan ludah, perlakuan Sinta memancing gairahnya sebagai lelaki keluar.

“Mbak, i-itu soal pa-patungnya gimana?” tanya Jaka terbata-bata karena menahan geli dan nikmat yang menjalar di bawah perutnya.

Sinta tersenyum. “Nanti
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Epi Saripudin
kasian jaka
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Perjalan Pulang

    Setelah berbenah dan mengenakan pakaian perjalanan terbaik mereka, Jaka dan Arum melangkah keluar kamar. Di ambang pintu utama istana, Panglima Wira Perkasa, Beno yang tampak segar dengan pakaian pas badannya, serta Kandita yang kini telah mengenakan jubah kebesarannya sebagai penguasa Tirtawana, telah menanti."Semuanya sudah siap?" tanya Kandita. Suaranya terdengar tenang, meski senyum di bibirnya menyembunyikan kegetiran perpisahan yang teramat dalam. “Kita akan menuju danau ilusi, menjemput seseorang, dan dari sana kita akan mengantar Jaka dan yang lainnya.”"Siap, Tuan Putri," jawab Jaka mantap.Kandita mengangguk memberi isyarat. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan pelataran istana, menaiki kereta kencana yang disiapkan khusus oleh Kaum Bulan Hitam menuju gerbang kota Tirtawana.Kereta kencana berlapis kayu mahoni dan hiasan ukiran perak itu meluncur mulus membelah jalanan kota batu putih Tirtawana. Di sepanjang rute, rakyat yang mulai beraktivitas pagi itu menunduk horm

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Pagi yang Baru

    Sinar matahari fajar kian meninggi, menyepuh tirai sutra jendela dengan kilau keemasan yang menenangkan. Di dalam keheningan kamar yang hangat itu, Jaka perlahan membuka matanya. Pandangannya langsung disambut oleh wajah damai Arum yang tertidur lelap dalam dekapan kanannya, serta Kandita—sang penguasa baru Tirtawana—yang bernapas teratur dengan kepala bersandar di dadanya. Tiga garis pusaka di tubuh Jaka berdenyut lembut, seirama dengan detak jantungnya yang kini selaras dengan ritme alam Tirtawana. Jaka menghela napas panjang, meresapi kehangatan yang melingkupi raganya. Ia tahu, fajar ini membawa serta panggilan kepulangan ke Alam Atas. Gerbang dimensi di pesisir Karang Panjang telah pulih, menunggu langkahnya dan Arum untuk kembali ke dunia asal mereka, sementara Beno barangkali sudah bersiap dengan segala celoteh khasnya di luar sana. Namun, sebelum fajar sepenuhnya beranjak naik dan menghentikan waktu tenang ini, Jaka mengeratkan sedikit dekapannya, membiarkan detik-detik ter

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Perpisahan Manis

    Mendengar desahan Kandita, gairah Jaka semakin memuncak hebat. Ia mengangkat kaki Kandita di atas bahunya, membuat batang perkasanya bisa menghujam lebih dalam. Plak Plok! “Ahh, Jaka… dalam banget…” racau Kandita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak mampu membendung nikmat yang menjalar dari selangkangan hingga ke ubun-ubunnya. Irama senggama yang liar dan penuh gairah terus mengguncang peraduan megah kamar istana Tirtawana. Suara decak kecipak kulit yang beradu dengan desahan napas berat memenuhi setiap sudut ruangan, menciptakan sebuah simfoni kenikmatan yang memabukkan di ambang fajar. Jaka bergerak semakin bertenaga di atas tubuh Kandita. Panggulnya menghantam masuk dengan ritme cepat dan dalam, membuat sang putri melenguh panjang tak karuan. "Ahhn... Jaka... ya, terus di situ... ahh!" jerit Kandita tertahan, matanya terpejam erat menikmati setiap sentakan kuat yang menghantam dinding rahimnya. Arum yang duduk bersandar di kepala ranjang tak tinggal diam. Melihat maduny

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Jaka, Aku Udah Nggak Tahan

    Pipi Kandita merona merah padam hingga ke lehernya. Pujian hangat yang meluncur dari bibir Jaka seketika meluruhkan sisa-sisa pertahanan diri dan rasa malunya. Dalam dekapan tangan kekar Jaka, raga sang putri terasa begitu ringan dan lemas, sepenuhnya menyerahkan takdir dan gairahnya pada pemuda yang telah menyatu dengan sukmanya. Jaka merebahkan tubuh Kandita secara perlahan di tengah-tengah peraduan megah yang berselimut sutra. Gaun tidur tipis yang melingkupi raga Kandita tersingkap halus saat Jaka membaringkannya, memamerkan paha mulusnya yang sudah basah oleh lelehan cairan kehangatan. Arum yang bersandar di kepala ranjang bergeser mendekat. Tanpa sedikit pun kecemburuan, jemari lenturnya terangkat mengusap lembut rambut panjang Kandita yang berantakan di atas bantal. "Tenanglah, Kandita..." bisik Arum penuh kehangatan, mengusap kening sang putri yang basah oleh keringat dingin. "Malam ini… Jaka milik kita bersama.” Kandita menatap Arum dengan sepasang mata yang berkaca-kaca,

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Satu Ranjang Bertiga

    Pintu kayu itu terbuka perlahan, membiarkan celah remang cahaya lampion dari dalam kamar menerobos keluar, menyinari raga Kandita yang masih bersimpuh lemas di ambang pintu. Pemandangan di hadapannya seketika mengunci seluruh fokus sang putri. Di atas peraduan megah yang berselimut sutra kelabu, raga Jaka yang tegap dan berurat padat tampak menindih tubuh Arum yang terkulai lemas. Kulit keduanya berkilat basah oleh peluh hangat, memantulkan pendar samar dari tiga garis pusaka Jaka yang menyala lembut. Setiap kali pinggul Jaka merangsek maju, derit ranjang kayu beradu nyaring dengan kecipak cairan gairah yang membasahi pangkal selangkangan Arum, menciptakan irama percintaan murni yang begitu liar dan memabukkan. "Nngghh... Jaka... lebih dalam, Sayang... ahh!" erang Arum parau, jemari tangannya meremas kencang punggung tegap Jaka yang naik-turun tak beraturan. Jaka yang sedang terengah-engah dalam kepungan nikmat mendadak merasakan hembusan angin dingin menyapu tengkuknya. Suara der

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Gairah yang Meluap

    Gaun tidur sutra tipis yang melambai halus melingkupi raga Kandita yang kini gemetar hebat. Langkah kakinya yang bertelanjang menapak pelan di atas lantai pualam yang dingin, menciptakan bunyi tapak halus yang tenggelam di dalam keheningan lorong istana yang temaram. Setiap langkah yang diambilnya terasa bagaikan pergulatan sengit antara akal sehat dan gairah murni yang membakar sukmanya. Di satu sisi, martabatnya sebagai pilar dan putri penguasa baru Tirtawana menjerit melarang, namun di sisi lain, jejak biologis dan ikatan sukma sakral yang telah tertanam di dalam rahimnya menuntut kerinduan yang teramat sangat pada sosok sang pemilik benih. Kandita menyusuri lorong sayap kanan istana dengan napas parau yang masih memburu. Dada indahnya naik-turun tak beraturan di balik gaun tipis yang menempel lembap oleh keringat dingin. Pipinya merona merah padam, dan lelehan kehangatan di selangkangannya membuat setiap gesekan kain terasa begitu menyiksa dan peka. Hingga akhirnya, langkahnya

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Hasrat Bu Lilis

    Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bertambah Besar

    Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” s

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Godaan Si Guru Cantik

    Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jak

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bu Susi dan Kelas Kosong

    Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status