ANMELDENSamudera membeku. "Maksud kamu... apa, Sayang?"Seraphine berjalan menuju area sudut kamar tidur utama. Di sana, di samping tempat tidur king size mewah berseprai putih, sudah berdiri sebuah extra bed (kasur tambahan) berukuran single yang telah dirapi-rapikan oleh staf hotel lengkap dengan selimut dan bantal tebal.Seraphine menunjuk kasur single itu dengan dagunya."Itu tempat tidur kamu malam ini," tegas Seraphine tanpa keraguan.Samudera membelalakkan matanya, merasa seolah baru saja disiram air es di tengah musim dingin. "S-Sayang?! Kamu bercanda kan?! Itu kasur tambahan!""Aku gak pernah bercanda soal batas kepemilikan aku," sahut Seraphine dingin. "Kamu udah jujur, aku udah dengar penjelasan kamu, dan aku udah kasih kamu makan. Tapi bukan berarti aku udah maafin kamu seratus persen. Dosa kamu belum bersih, Samudera."Samudera membelalakkan matanya, rasa terkejut dan ketakutan seketika menyambar dadanya. "S-Sayang?... Di extra bed? Kenapa gak di kasur utama sama kamu?""Karena a
Seraphine melipat kedua tangannya kembali, menatap suaminya dengan kilat amarah yang kini terarah pada hal lain."Dan soal nyiksa diri kamu selama lima hari ini? Kamu gila atau gimana, Samudera Adikara?" tegur Seraphine tajam, suaranya naik satu oktav. "Gak mau makan, cuma minum suplemen dari aku, buang makanan dari chef, pingsan di panggung Osaka, dan bikin seluruh member Motion13 kayak mau mati serangan jantung... Kamu pikir itu cara yang jantan buat minta maaf?!"Seraphine melangkah mendekati Samudera, memukul dada tegap suaminya dengan kepalan tangannya sendiri.Buk! Buk!"Kamu bodoh, Samudera Adikara!" omel Seraphine, suaranya gemetar hebat. "Kamu pikir aku marah cuma gara-gara masa lalu kamu?! Iya, aku jijik! Aku benci setengah mati ngebayangin kamu pernah sama cewek lain! Tapi yang bikin aku tambah gila itu tingkah kamu lima hari belakangan ini!"Samudera membiarkan Seraphine memukul dadanya. Ia tidak sedikit pun mencoba menghindar atau menangkis pukulan-pukulan itu."Kamu gak
Kamar hotel Seraphine sangat luas, didominasi oleh warna-warna netral dan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gemerlap kota Nagoya dari ketinggian. Samudera tersenyum simpul, tahu persis selera mahal istrinya.Pandangan Samudera tidak berhenti pada Seraphine yang kini melepaskan blazer-nya, menyisakan silk camisole berwarna gading dan celana bahan berpotongan tinggi yang menutupi tubuh semampainya.Seraphine berjalan menuju sofa tengah, duduk di sana sambil bersedekap dada dan menatap suaminya. “Duduk, Samudera,” perintah Seraphine dingin.Samudera melangkah mendekat. Bukannya duduk di sofa kosong di sebelah Seraphine, pria itu justru berlutut di atas karpet bulu tepat di depan kaki Seraphine. Kedua tangan besarnya bertumpu di atas paha Seraphine, mendongak menatap wajah istrinya dengan tatapan paling pasrah.Seraphine menatap suaminya dari atas. Membiarkan pria yang dipuja oleh puluhan juta orang di seluruh dunia ini berlutut sukarela di depan kakinya."Sekarang," ujar Seraphine
Mangkuk bekal berisi bubur tim ayam itu kini sudah hampir kosong. Warna di bibir Samudera perlahan mulai membaik, meski lingkaran hitam di bawah matanya masih menyisa sebagai bukti siksaan fisik selama lima hari terakhir. Pria alpha itu duduk bersandar di kursi kayu, tangannya tetap mengunci rapat jemari kanan Seraphine di atas pahanya. Ia menatap istrinya seolah-olah jika ia berkedip, Seraphine akan lenyap dalam bentuk asap.Seraphine meletakkan sendok plastik dan menutup rapat kotak bekal. Ia merapikan kerah blazer-nya dengan satu tangan yang bebas, lalu menatap Samudera datar."Udah. Habis ini minum air hangat," ujar Seraphine singkat, menunjuk botol mineral di atas meja."Kamu minum juga, Sayang," bisik Samudera pelan, suaranya masih parau namun jauh lebih teratur. Tangannya mencengkeram jemari Seraphine makin erat. "Dari tadi Kamu belum minum.""Gak usah ngatur," sahut Seraphine dingin, menatap tajam ke arah tautan tangan mereka. "Lepasin dulu. Kita keluar."Samudera mendadak men
"Iya, iya! Aku ganti baju sekarang! Jangan ke mana-mana!" seru Samudera panik.Secara perlahan, dengan berat hati yang luar biasa, Samudera melepaskan pelukannya dari tubuh Seraphine. Jemarinya sempat menahan jemari Seraphine selama beberapa detik sebelum akhirnya terlepas total.Samudera melangkah mundur dua tindak. Matanya masih terus memperhatikan Seraphine, seolah-olah memastikan wanita itu tidak berpindah tempat bahkan satu sentimeter pun. Pria itu berjalan menuju sudut ruang ganti tempat koper pakaian biasanya diletakkan.Dengan tangan yang masih gemetaran dan napas yang agak berat, Samudera melepaskan outer kostum panggung hitamnya yang penuh dengan aksesoris besi dan rantai. Ia melempar pakaian mahal itu begitu saja ke lantai, lalu menyambar sebuah kaus polos berwarna abu-abu terang dan celana training hitam dari dalam koper.Selama proses berganti pakaian itu—bahkan saat ia melepaskan kaus hitamnya yang basah kuyup dan memperlihatkan tubuh tegapnya yang kini tulang rusuknya s
Tubuh tinggi Samudera mengunci pergerakan Seraphine secara mutlak. Pria alpha itu menggunakan sisa-sisa kekuatan fisiknya yang tersisa untuk memojokkan tubuh semampai istrinya ke dinding keras di samping pintu. Kedua tangannya terkurung di sisi kiri dan kanan kepala Seraphine, menciptakan barikade yang tak tertembus."Samudera! Lepasin!" jerit Seraphine panik. Matanya membelalak saat mendongak, menemukan wajah Samudera yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Wajah pria itu sangat dekat—napasnya yang panas, membara, dan terengah-engah menerpa permukaan kulit pipi Seraphine."Aku gak akan pernah biarin kamu melangkah keluar dari pintu ini lagi!" bisik Samudera dengan nada gila, matanya yang memerah dan liar menatap bibir merah marun milik istrinya."Lepas, Samudera! Kamu gila ya—"Kalimat Seraphine terputus secara brutal.Samudera memiringkan kepalanya dan menyerang bibir Seraphine tanpa peringatan. Samudera menundukkan kepalanya secara brutal dan mengunci bibir istrinya
Suasana di kamar itu masih dipenuhi dengan keheningan. Samudera masih mengusap lembut lengan istrinya dengan gerakan yang ritmis, sesekali mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang, membuat Seraphine yang bersandar di dada bidang suaminya menikmati momen ini sambil memejamkan mata. Tetapi, sema
Samudera sampai rumah tepat saat waktu menunjukkan pukul 17.30. Ia langsung berjalan cepat menuju kamar utama. Senyumannya mengembang hanya dengan membayangkan ada istri cantik yang menunggunya. Begitu pintu kamar terbuka, pandangan Samudera langsung terkunci pada sosok wanita yang sedang bersandar
Di bawah guyuran hujan yang masih turun, kedua manusia iu masih berdiri mematung. Seraphine akhirnya berhenti meronta. Ia menyandarkan kepalanya di dada Samudera, mendengar detak jantung pria itu yang berpacu sama liarnya dengan detaknya sendiri.Samudera membenamkan wajahnya di ceruk leher Seraphi
Setelah liburan singkat bersama Adrian dan keluarganya. Seraphine jauh lebih stabil dalam melakukan pekerjaannya. Wanita cantik itu kembali memimpin rapat dengan tenang dan berhasil membuat suatu keputusan yang menguntungkan banyak pihak. Sore itu, di sebuah studio pilates privat di Kawasan Senopat







