Hari itu, Mila kembali menemani Adrian meeting dan seperti yang sudah ia duga, di hadapannya Hans dan Nadine duduk menatapnya tajam. Mila melirik Adrian yang tidak tahu apa-apa soal kegaduhan dalam hatinya. Pria itu sedang menjelaskan dengan serius tentang tahapan pekerjaan yang akan dilakukan oleh teamnya.“Selanjutnya akan dilanjutkan oleh Ibu Mila,” ujar Adrian seraya menyodorkan pointer.Mila mengambil pointer itu dari tangan Adrian lalu berdehem sejenak sebelum memulai presentasinya. Sekuat tenaga Mila berusaha tenang dan fokus. Awalnya suaranya sedikit pelan dan ragu namun perlahan semakin stabil.Sampai pada pertengahan, Mila menyorot sebuah garfik dengan pointernya. “Untuk fase awal, kita akan fokus di..”“Angkanya dari mana?”Suara Nadine memotong. Nadanya tidak keras, namun cukup untuk membuat kalimat Mila berhenti di tengah. Ruangan langsung terasa lebih sunyi.Mila menoleh. “Itu proyeksi dari data bulan sebelumnya…”“Bulan sebelumnya yang mana?” potong Nadine lagi, kali in
Read more