Karena Sofia tak kunjung kembali, Riga akhirnya memutuskan untuk menyusul. Ia mematikan api kompor, mengelap tangannya dengan apron, lalu melangkah ke ambang pintu ruang tamu.Pemandangan di depannya membuat rahangnya mengeras.Wira, pria yang selama ini memperlakukan Sofia dengan tidak adil, kini berdiri di sana dengan bahu merosot dan wajah yang tampak menua sepuluh tahun.Tanpa ragu, Riga mendekat. Ia menyusupkan tangannya ke pinggang Sofia, memeluknya dengan pose posesif yang tegas, sebuah pesan diam untuk Wira bahwa tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti wanita ini di bawah pengawasannya.Namun, saat Riga melihat Sofia menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh empati dan kasih sayang yang tulus, Riga melonggarkan cengkeramannya. Ia sadar, seburuk apa pun sejarah di antara mereka, darah tetaplah darah. Sofia tidak bisa membiarkan ayahnya hancur begitu saja.“Makan malamnya sudah matang, Pak Wira. Jika Anda mau, bergabunglah bersama kami,” tawar Riga dengan nada sopan yang teru
Read more