Suasana di kamar itu terasa berat, entahlah. Entah karena dua orang yang sama-sama peduli tapi tidak tau cara nya berkomunikasi. Mereka saling ingin mengorbankan satu sama lain. Apakah ini ikatan perasaan mereka yang kuat? Atau rasa bersalah yang ingin di ganti dengan pembelaan, Roselina mengusap rambut pirang nya, langkah nya semakin dekat. Dia bisa menyembuhkan Kaelan tapi. "Aku bersumpah, Roselina. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan hal bodoh itu." Suara bariton Kaelan terdengar serak namun sarat akan otoritas absolut. Pria itu memaksakan diri turun dari ranjang, menahan rasa sakit luar biasa yang kembali membakar urat nadinya di setiap pergerakan. “Haruskah aku yang mengatakan kebenaran. Agar kau tau, agar tau aku benar-benar peduli pada mu Kaelan, bahkan jauh sebelum kau mengetahui aku pernah ada di hidup mu,”gumam Roselina pelan. Keringat dingin membasahi pelipis Kaelan, wajahnya masih sepucat mayat. Namun, mata safir sang Tiran Lautan menatap tajam, memancarkan p
Read more