Udara malam yang anyir oleh darah sang pengintai masih menguar tajam di sudut gang berlumut itu. Tabib Caspian mengusap bercak merah di wajahnya dengan saputangan sutra, seolah ia baru saja membersihkan noda teh yang tumpah, bukan nyawa manusia. "Jadi, kita serbu ruang bawah tanah itu sekarang?" tanya Moseph kasar, menendang jasad pengintai elit itu ke sudut gelap. "Aku sudah muak menunggu." Langkah Caspian terhenti. Pria paruh baya itu menoleh menatap Moseph, lalu mendengus meremehkan. Tawanya terdengar pelan, namun sarat akan kelicikan yang luar biasa. "Hanya orang bodoh yang menceburkan diri ke dalam kobaran api, Moseph," ucap Caspian santai. "Pusaka itu sedang meresonansi sihir buas Kaelan. Jika kau menyentuhnya sekarang, Jantung Samudera hanya akan membakar tanganmu hingga menjadi abu." Moseph mengerutkan kening. "Lalu apa gunanya kau membunuh pengintai ini jika kita tidak bergerak mengambil pusakanya malam ini?!" "Oh, kita akan bergerak," Caspian tersenyum iblis, menatap m
Read more