Partager

Angin Segar yang Semu

Auteur: Kim Sierra
last update Date de publication: 2026-04-26 21:15:35

Lampu kristal raksasa di langit-langit ballroom hotel mulai terasa seperti beban yang menekan pundak Ghea. Suara denting gelas dan tawa basa-basi para petinggi perusahaan terdengar seperti dengung lebah yang menyakitkan telinga.

Sejak tadi, matanya dipaksa menyaksikan bagaimana Clarissa terus menempel pada Satya, memamerkan kemesraan yang seolah-olah dirancang khusus untuk mengiris hatinya.

“Mbak, saya permisi ke luar sebentar,” bisik Ghea pada staf admin di sebelahnya.

Tanpa menunggu jawaban,
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Akhir dari Semua Badai

    Langkah kaki Satya terasa jauh lebih ringan saat ia menyusuri lorong sunyi menuju unit apartemen pribadinya. Suasana malam yang larut di luar sana seolah membawa pergi semua ketegangan yang menggunung sejak pagi.Konflik dengan ibunya, keputusasaan Wijaya di basement, hingga semua intrik kotor Clarissa kini resmi menjadi lembaran masa lalu yang sudah ia tutup rapat-rapat.Begitu pintu jati itu terbuka setelah bunyi klik digital yang familier, aroma terapi lavender yang menenangkan langsung menyambut indra penciumannya.Dan di sana, berdiri di dekat meja makan kecil dengan pakaian santainya, Ghea menoleh. Sebuah senyuman khas yang lembut dan tulus terukir di wajahnya yang tampak lelah namun lega.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Satya melangkah lebar dan langsung membawa Ghea ke dalam dekapannya. Ia memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ghea, menghirup aroma yang selalu menjadi rumah baginya."Sat... kamu kenapa? Kok erat banget?" bisik

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Pengakuan Wijaya

    Lampu remang basement apartemen Satya memantulkan bayangan sunyi malam itu. Satya berjalan dengan langkah berat, melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik sejak rapat maraton tadi siang.Baru saja ia mengeluarkan kunci akses mobil dari sakunya, sebuah bayangan pria paruh baya keluar dari balik pilar beton.Langkahnya tergesa-gesa, wajahnya yang biasa angkuh kini tampak kuyu dan dipenuhi keringat dingin. Itu Wijaya, pemilik Wijaya Grup sekaligus ayah Clarissa.“Satya! Tunggu, Sat. Saya butuh bicara sama kamu,” panggil Wijaya dengan suara yang serak, kehilangan wibawa yang biasanya ia pamerkan di lantai bursa.Satya menghentikan langkahnya, tangannya masih memegang gagang pintu mobil. Ia menatap pria di depannya tanpa ekspresi, seolah-olah yang berdiri di sana hanyalah angin lalu. “Malam, Pak Wijaya. Maaf, tapi urusan kita di kantor tadi siang sudah selesai secara legal.”“Tolong, Satya. Kasih saya waktu sebentar. Kita bicara empat mata, jangan di sini,” mohon Wijaya, matanya ber

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Tidak Sedang Mencari Kemenangan

    Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela kaca besar di lobi kantor Adhitama Group tidak mampu mencairkan suasana dingin yang dibawa oleh Rani Adhitama.Dengan langkah kaki yang menghentak keras, suara sepatunya bergema di lantai marmer layaknya detak jam kematian. Wajahnya tertutup riasan tebal, namun gurat kemarahan di matanya tidak bisa disembunyikan.“Ghea mana?!” bentak Rani begitu sampai di depan meja resepsionis lantai eksekutif.Staf administrasi yang sedang merapikan berkas tersentak kaget hingga menjatuhkan pulpennya. “Maaf, Bu Rani... Bu Ghea belum terlihat sejak jam masuk tadi. Absensinya masih kosong.”Rani mendesis, tangannya mencengkeram pinggiran meja. “Lalu Satya? Jangan bilang dia juga nggak ada di ruangannya.”“Pak Satya... kami juga tidak tahu, Bu. Beliau tidak bisa dihubungi sejak tadi malam. Di apartemennya juga katanya kosong saat orang suruhan Ibu mengecek ke sana,” jawab staf itu dengan suara bergetar ketakutan.Rani membalikkan badan, napasnya me

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Pernyataan Tegas Satya

    Aula utama Hotel Grand Mulia malam itu disulap menjadi lautan kemewahan. Kristal-kristal lampu gantung membiaskan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, memantul di atas gaun-gaun mahal dan jas custom para tamu undangan.Rani Adhitama berdiri di tengah kerumunan, memegang gelas kristal berisi wine putih, tertawa anggun bersama beberapa rekan bisnis dari konsorsium bank. Ia tampak seperti ratu yang baru saja memenangkan wilayah jajahan baru—tenang, berkuasa, dan sangat puas.Satya memperhatikan ibunya dari kejauhan. Jas tuksedo hitam yang ia kenakan terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, tapi karena kepalsuan udara di ruangan ini. Ia melangkah tenang, membelah kerumunan hingga berdiri tepat di samping Rani.“Mama kelihatan senang banget malam ini,” sindir Satya pelan, suaranya teredam musik klasik yang dimainkan orkestra di sudut aula.Rani menoleh, senyumnya tidak luntur sedikit pun saat menatap putranya. “Tentu saja. Ini malam besar kita, Satya. Tiga puluh tahun Adhitama be

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Ketenangan Sebelum Badai Terakhir

    Kabut pagi di sekitar danau perlahan terangkat, menyisakan hawa dingin yang masih menusuk kulit. Di dalam kamar hotel, suasana yang tadinya penuh kehangatan kini berubah menjadi kesibukan yang tegang.Satya dan Ghea bergerak dalam diam, mengemas barang-barang mereka dengan gerakan yang terukur namun cepat. Tidak ada lagi tawa atau gombalan ringan; udara di antara mereka kini sarat dengan antisipasi akan apa yang menunggu di Jakarta.Satya baru saja selesai memakai kemejanya saat ponselnya kembali bergetar di atas meja kayu. Ia membacanya singkat, lalu menghela napas panjang yang terdengar seperti beban berat yang dilepaskan.“Kenapa, Sat? Ada kabar buruk lagi?” Ghea bertanya sambil merapikan tas kecilnya. Matanya terus memperhatikan gerak-gerik Satya.Satya memasukkan ponsel ke saku celana, wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya.“Haris baru kirim pesan singkat. Mama sudah tanda tangan surat pembekuan wewenangku sebagai CEO per pagi ini. Mereka juga sudah nyiapin gugatan perdata soa

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Mimpi di Bawah Selimut

    Keheningan yang menyusul setelah badai gairah itu terasa begitu magis. Hanya ada suara deru napas yang perlahan mulai teratur dan detak jantung yang masih berpacu di balik dada mereka yang bersentuhan.Satya menarik selimut putih hotel yang tebal untuk membungkus tubuh polos mereka, menciptakan kepompong hangat di tengah udara pegunungan yang kian menggigit di luar sana.Mereka berbaring berdampingan, menatap langit-langit kamar yang disinari remang lampu nakas. Jemari Satya menyusup ke sela-sela jari Ghea, menggenggamnya erat seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan menguap bersama kabut.“Aku serius sama omonganku tadi, Ghe,” suara Satya memecah kesunyian, terdengar berat namun penuh keyakinan. “Aku ingin menikah denganmu. Secepatnya.”Ghea menarik napas panjang, matanya masih menatap kosong ke atas. “Menikah itu kata yang berat buat orang kayak kita sekarang, Sat. Kita bahkan nggak tahu besok pagi masih bisa sarapan dengan tenang atau nggak.”“Justru karena

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Mau Menginap di Sini!

    Ghea berdiri mematung di lorong apartemen yang sunyi, menatap sosok Satya yang kini sudah tegak berdiri di depan pintu unitnya. Aura tenang yang tadi ia bawa dari makan malam bersama Rayhan mendadak menguap, berganti dengan rasa sesak yang familiar.Bau alkohol tipis tercium saat Satya melangkah sa

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Sisi Rapuh yang Muncul Sepersekian Detik

    Jam tujuh lewat lima belas menit malam.“Kamu nggak pulang? Ini sudah lewat jam tujuh malam.”Ghea tersentak, bahkan hampir menjatuhkan tumpukan map yang sedang ia rapikan. Ia lalu menoleh dan mendapati Satya sudah berdiri di ambang pintu ruangannya dengan jas yang tersampir di lengan kiri. Kancing

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Kemarahan tak Berdasar

    Di siang itu, Ghea sudah mulai bekerja dan tugas pertamanya adalah membuatkan kopi untuk bos galaknya itu.“Permisi. Kopi barunya sudah siap,” ucap Ghea kemudian meletakan kopi tersebut di atas meja.Satya kemudian berhenti mengetik. Ia meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu detik berikutnya

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Dendam itu Masih Ada

    “Nomor urut 072, Ghea Clarissa. Silakan masuk, Pak CEO sudah menunggu,” ucap sekretaris administrasi pada Ghea.Wanita cantik berusia 28 tahun itu kemudian merapikan rok span hitamnya yang terasa sedikit lebih ketat dari terakhir kali ia memakainya, mungkin karena stres yang menumpuk. Dengan napas

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status