"Siapa yang memberitahunya, Barbara?"Aurelia membalikkan badan dengan napas terengah. Suaranya bergetar panik.Barbara menghela napas panjang, melangkah mendekat seraya memegang kedua bahu Aurelia yang kaku. "Aurel, dengarkan aku. Soal bagaimana dia tahu, kita bahas nanti. Sekarang fokus kita cuma satu, berdoa untuk kesembuhan Maxi."Aurelia meremas jemarinya sendiri. Kata-kata Barbara ada benarnya, namun rasa penasaran dan kecemasan terus menggerogoti dadanya.Sepuluh menit berlalu dalam hening yang mencekam. Langkah kaki berat bergema dari arah lorong tindakan. Caleb berjalan kembali menuju area tunggu UDR. Lengannya terbebas dari selang donor, meninggalkan plester kecil di lipatan sikunya. Langkahnya mantap, meski rona wajahnya sedikit memucat usai proses pengambilan darah.Caleb mendongak dan menghentikan langkahnya sejenak. Di sekitar Aurelia, bukan hanya ada Barbara dan Alex. Nathaneil Reid sudah berdiri di sana. Begitu juga dengan Roland. Kehadiran sahabatnya itu membua
Read more