Caleb baru saja keluar dari kamar mandi saat ia melihat ponselnya bergetar di atas meja. Nama yang tertera di layar membuatnya segera menjawab panggilan tersebut."Kau menyesali ucapanmu, Aureli?""Paman, ini aku."Caleb berdeham, merutuki dirinya sendiri yang diam-diam berharap suara di seberang sana adalah suara wanita itu."Hei, Max." Suaranya berubah jadi lebih hangat, lebih hidup. "Ada yang kau butuhkan, Jagoan?""Kita belum foto bareng sambil pegang medali." Suara Maxi terdengar bersemangat. "Besok Paman mau tidak foto sama aku?""Tentu saja." Caleb menjawab tanpa pikir panjang. "Paman akan menjemputmu sepulang sekolah."Maxi berseru girang di seberang telepon. "Asik! Besok pas Paman jemput," Maxi melanjutkan, kali ini nadanya lebih pelan, hampir ragu, "aku masih boleh manggil Paman 'Ayah' di depan teman-teman, kan?"Dada Caleb berdenyut aneh mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja."Maxi kembali bersorak. "Makasih, Paman!"Caleb ikut tertawa. Tawa bocah itu menjalar hangat samp
Read More