"Aku belajar darimu!" Keheningan melingkupi mereka selama beberapa detik. Mata mereka saling mengunci, menolak untuk menjadi pihak yang menyerah terlebih dahulu. Caleb mulai melangkah maju. Makin dekat. Makin dekat. Aurelia reflek mundur perlahan sampai punggungnya menabrak pintu lemari pakaian yang keras. Caleb berhenti tepat di depannya, mengikis habis jarak hingga aroma parfum maskulin bercampur wangi kulit tubuhnya menguar kuat."A-apa yang kau lakukan?""Takut?" bisik Caleb, menunduk sedikit untuk menyejajarkan pandangan."Tidak," jawab Aurelia, meski dadanya berdegup kencang bak ditabuh gila-gilaan."Yakin?""Kenapa aku harus meyakinkanmu?""Lalu kenapa mundur?""Aku hanya memberi jalan untukmu," kilah Aurelia cepat."Aku bahkan belum berjalan ke mana-mana," kekeh Caleb pelan, suaranya bergetar rendah di dada.Aurelia memalingkan wajahnya, tak sanggup berlama-lama menatap iris mata biru yang seolah mampu menelanjanginya itu. "Aku lelah, Caleb.""Aku juga.""Kalau
Read more