Pagi tiba dengan cahaya keemasan yang menyelinap lewat tirai jendela. Suasana di rumah keluarga Nia mulai sibuk. Penata rias sudah datang, kerabat mulai berdatangan. Nia duduk di kursi rias, membiarkan wajahnya didandani, rambutnya ditata indah. Tak ada yang tahu betapa berdebar jantungnya, betapa tegang setiap otot tubuhnya."Cantik sekali, Putriku," puji Nyonya Catherine dengan mata berkaca-kaca.Nia tersenyum tipis, mencium tangan mamanya. "Terima kasih, Ma."Mobil pengantin tiba. Nia diantar ke Katedral Jakarta yang megah, tempat ratusan orang berkumpul untuk menyaksikan pernikahan itu. Di ruang tunggu yang hening dan beraroma lilin katedral, Nia menarik napas panjang, tangannya dingin dan berkeringat. Detik ini, pikirnya, sekarang atau tidak sama sekali. Ia bangkit perlahan, berusaha terlihat tenang, melangkah menuju pintu keluar samping yang sedikit tersembunyi, tempat di mana Ariana, Verren, dan Samudra seharusnya sudah menunggunya di dalam mobil.Namun, begitu pintu terbuka,
Last Updated : 2026-09-15 Read more