Aldrick menegakkan punggungnya, membaca ulang nama pemilik saham yang tertera di sana."Hendra," gumamnya, matanya langsung menyipit tajam. "Ternyata seperti ini dirimu yang asli."Sudut bibir Aldrick terangkat, membentuk seringai dingin.Ia segera menyambar dokumen berikutnya dari dalam map yang sama. Itu adalah laporan utang piutang, disusul oleh surat teguran hukum dari lembaga keuangan, dan laporan penyitaan aset. Semuanya mengarah pada satu nama yang sama.Hendra.Realitas yang bertolak belakang dari apa yang ia baca satu jam lalu.Namun, sosok yang tergambar di lembaran-lembaran kumal ini sama sekali bukan Hendra yang dikenal publik saat ini. Ini adalah Hendra yang hidup belasan tahun lalu, seorang pria malang yang terlilit utang dalam jumlah yang luar biasa besar, seorang pengusaha gagal yang hidupnya hancur, dan seorang buronan yang diburu oleh para penagih utang berdarah dingin."Pria malang yang hancur," gumam Aldrick pada dirinya sendiri, matanya terus membaca baris dem
Read more