Marcus terdiam untuk waktu yang cukup lama. Di bawah lampu ruang kerjanya, tatapannya tetap tenang, datar, dan sedalam telaga mati. Tidak ada kilatan kemarahan, tidak ada pula riak ketakutan di sana. Baginya, ancaman yang baru saja dilontarkan Stanley tidak lebih dari embusan angin malam yang lewat sepintas lalu. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menunjukkan dominasi, Marcus menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit. "Dendam memang memiliki cara yang unik untuk membuat seseorang bertahan hidup lebih lama, Stanley," ujar Marcus, suaranya berat dan serak, khas seorang tetua yang telah melewati ratusan badai. Stanley menyipitkan matanya, merasa terganggu dengan ketenangan pria di hadapannya. "Apa maksudmu dengan omong kosong itu?" "Kamu masih terus memikirkan luka di wajah Jessi." Marcus menatapnya lurus, membedah ekspresi Stanley tanpa belas kasihan. "Itu adalah bukti nyata bahwa kamu belum benar-benar bisa menerima kenyataan. Kamu terjebak oleh dendam itu sendiri
Read more