Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 192. Takdir yang Kembali

Share

192. Takdir yang Kembali

Author: malapalas
last update publish date: 2026-07-07 20:32:50

Pandangan Elena menyapu ketiga pria asing yang berada di dalam rumah itu. Dua di antaranya berdiri dalam sikap waspada, sementara pria terakhir yang berada paling dekat dengan Fay justru memancarkan ketenangan yang jauh lebih menekan.

​Aaron.

​Untuk beberapa saat, ia tidak mampu mengalihkan pandangannya dari pria itu.

Aaron hanya berdiri di sana dengan tenang.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Namun, justru keheningan itulah yang menghadirkan sebuah tekanan yang luar biasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   273. Pesta Pernikahan Sang Alpha

    Hotel itu menjulang megah di tengah kawasan elite kota, menjadi bangunan paling mencolok di sepanjang jalan utama.Eksteriornya didominasi kaca tinggi yang memantulkan cahaya matahari, berpadu dengan batu marmer putih dan garis-garis arsitektur modern berwarna gelap. Pilar-pilar besar berdiri di sepanjang pintu masuk utama, sementara deretan lampu kristal menggantung di bawah kanopi luas yang membentang hingga area penurunan tamu.Di bagian depan, karpet merah terbentang panjang menuju pintu utama.Beberapa kendaraan mewah berhenti bergantian di area tersebut, menurunkan para tamu yang datang untuk menghadiri pernikahan terbesar yang diselenggarakan oleh Aaron.Hotel itu baru saja selesai direnovasi setelah Aaron mengambil alih kepemilikannya. Hampir seluruh bagian bangunan diperbarui, mulai dari lobi, ballroom, restoran, hingga area khusus untuk tamu VIP.Tidak ada detail yang dibuat secara sederhana.Bahkan taman di depan hotel ditata dengan pohon-pohon hias yang dipangkas sempurna,

  • Anak Rahasia Sang Alpha   272. Laporan Perkembangan Penelitian

    Salah seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun maju dari barisan tersebut. Rambutnya telah dipenuhi uban, tetapi sorot matanya tetap tajam dan penuh ketelitian. Jas laboratorium yang dikenakannya tampak rapi, dengan sebuah lencana bertuliskan Profesor Ronald terpasang di bagian dada.Ia merupakan ketua tim penelitian yang bertanggung jawab atas penelitian darah werewolf serta pengembangan obat-obatan penguatan.“Selamat datang, Alpha,” ucap Profesor Ronald. “Kami telah menunggu kedatangan Anda.”“Bawa aku ke ruang penelitian utama. Aku ingin mendengar laporan langsung mengenai hasil terbaru.”“Baik, Alpha.”Profesor Ronald memberi isyarat kepada timnya untuk mengikuti mereka.Mereka bergerak melewati koridor utama yang semakin lebar. Di balik dinding kaca tebal, Edward mulai melihat bagian dalam fasilitas penelitian.Ruang penelitian utama itu sangat luas, bahkan menyerupai beberapa lantai fasilitas yang disatukan menjadi satu area besar. Langit-langitnya tinggi, dilengkapi rangk

  • Anak Rahasia Sang Alpha   271. Laboratorium Sang Alpha

    Kecepatan mereka perlahan menurun setelah melewati celah sempit di antara dua tebing batu. Aaron akhirnya menghentikan langkahnya di sebuah jalur berbatu yang menghadap ke lembah tersembunyi.Edward berhenti beberapa langkah di belakangnya.Angin berembus melewati pepohonan, membawa kabut tipis yang perlahan terpecah di hadapan mereka. Di balik lapisan pepohonan dan tebing yang menjulang tinggi, bangunan laboratorium medis rahasia mulai terlihat.Dinding putih kelabu berdiri kokoh di tengah lembah, berpadu dengan kaca gelap dan struktur logam yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Bangunan itu jauh lebih besar daripada yang Edward bayangkan. Beberapa sayap bangunan membentang ke sisi lembah, sementara bagian lainnya tersembunyi di balik lereng batu dan pepohonan lebat.Tidak ada jalan umum yang mengarah ke tempat itu. Tidak ada papan nama atau tanda yang dapat mengungkapkan fungsi sebenarnya.Namun, Edward segera menyadari bahwa bangunan tersebut bukan sekadar laboratorium yang te

  • Anak Rahasia Sang Alpha   270. Menuju Laboratorium Rahasia

    Edward menatap profil wajah Aaron dari samping, kemudian tersenyum tipis.“Kamu benar-benar sudah berubah.”Aaron mengernyitkan kening. “Maksudmu?”“Dulu, kamu hanya tahu cara menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalanmu.”Edward menyilangkan tangan di depan dada.Kilat ngeri sekaligus kagum melintas di matanya saat mengingat memori kelam dua puluh lima tahun lalu—ketika Aaron kecil mengamuk dan berubah menjadi monster serigala yang menakutkan.“Sekarang kamu justru berbicara tentang masa depan, perlindungan, penelitian, dan bagaimana kehidupan setelah perang berakhir,” lanjutnya.Aaron memilih tidak menyahut.Edward terkekeh pelan melihat sikap dingin Aaron. “Jangan salah paham. Aku tidak sedang mengatakan kamu menjadi lebih lembut.”“Bagus,” sahut Aaron datar."Aku hanya ingin mengatakan bahwa ambisimu sekarang jauh lebih besar dan berbahaya.”Tatapan Aaron mengeras samar. “Ambisi tidak akan ada artinya jika tidak menghasilkan sesuatu yang bisa bertahan.”Edward mengangguk setu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   269. Kedatangan Sekutu Sang Alpha

    Suara mesin jet pribadi perlahan mereda setelah pesawat itu berhenti di landasan khusus penerbangan privat. Beberapa petugas keamanan yang telah berjaga di sekitar area segera bergerak. Mereka berdiri dalam barisan teratur di sisi landasan, sementara angin yang berembus mengibaskan ujung jas hitam yang dikenakan masing-masing pengawal. Pintu pesawat terbuka. Beberapa detik kemudian, Edward Johnson muncul dari dalam kabin. Pria itu mengenakan setelan abu-abu gelap dengan kemeja putih yang rapi. Begitu melihat Aaron berdiri tidak jauh dari tangga pesawat, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. “Aaron!” Edward menuruni tangga dengan langkah ringan sebelum berjalan menghampiri sang Alpha. Aaron membalasnya dengan senyum tipis. Ia mengulurkan tangan ketika Edward sudah berada di hadapannya. “Selamat datang, Edward.” Aaron menjabat tangan Edward dengan erat. “Terima kasih sudah menerima undanganku dan datang langsung ke sini.” Edward terkekeh pelan. “Kamu tidak perlu berterima ka

  • Anak Rahasia Sang Alpha   268. Celah di Balik Rencana

    Benak Lira berputar cepat. Rasa sakit tiba-tiba mencengkeram hatinya.Pernikahan yang bukan hanya akan mengikat Aaron dan Fay secara resmi, tetapi juga berpotensi mengukuhkan kedudukan perempuan itu sebagai Luna dan Arsen sebagai pewaris sah di hadapan para pemimpin klan.Jemari Lira kembali mengepal. Ia tidak ingin membayangkan Aaron berdiri di hadapan semua orang bersama Fay, sementara dirinya dan semua pihak hanya bisa menyaksikan tanpa mampu melakukan apa pun.Lebih dari itu, ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa pria yang dahulu begitu dekat dengannya kini telah membangun kehidupan yang sama sekali tidak lagi memberinya tempat.Lira menarik napas perlahan, berusaha meredam gejolak yang mulai menguasai dadanya.Beberapa saat kemudian, ia menatap Marcus dengan hati-hati.“Jika pernikahan itu sudah terdaftar secara sah ... apakah kita benar-benar tidak bisa melakukan apa pun?” tanyanya.Pertanyaan itu membuat Marcus terdiam sejenak. Ia kemudian berjalan menuju meja dan meletakka

  • Anak Rahasia Sang Alpha   58. Api yang Dibawa Pulang

    Jessi keluar dari dalam lift dengan langkah tergesa-gesa, hampir tersandung karena pandangannya yang mengabur. Napasnya terengah-engah dan kacau, sementara sebelah tangannya masih menekan sisi wajah yang terus mengalirkan darah segar. Namun, rasa perih yang menjalar di kulitnya sama sekali tidak se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   49. Lolongan yang Mencari

    ​Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadarank

  • Anak Rahasia Sang Alpha   7. Gairah Membakar

    Aaron menarik kursi di hadapannya, memaksaku duduk tepat di bawah sorot lampu kerja yang membuatnya tampak seperti hakim yang sedang menginterogasi orang pesakitan.Ia membuka kotak perak itu. Aroma daging panggang yang diperkaya rempah-rempah menyeruak, aroma yang anehnya membuat perutku yang mual

  • Anak Rahasia Sang Alpha   6. Di Bawah Kuasa Sang Predator

    "Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status