Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 199. Surga di Balik Kaca

Share

199. Surga di Balik Kaca

Author: malapalas
last update publish date: 2026-07-14 17:33:30

Begitu pintu terbuka, embusan udara yang hangat, lembap, dan dipenuhi wewangian floral yang luar biasa kaya langsung memeluk indra penciumanku.

​Aku menatap sekeliling dengan binar mata yang tidak bisa kusembunyikan.

​Di hadapanku, berdiri sebuah rumah kaca bergaya Victorian modern. Struktur rangkanya terbuat dari besi tempa kokoh berwarna hitam, menopang ratusan panel kaca cembung yang membentuk kubah yang sangat besar di atas kepala kami.

​Hamparan warna yang begitu luar biasa langsung memban
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   220. Ramuan yang Sirna

    Tekanan cakar Aaron menghunjam semakin dalam tanpa ampun. Rasa sakit yang membakar menjalar dari dada kiri Damian, disusul darah segar yang kembali menyembur dari mulutnya.Napasnya langsung tersengal hebat.Aaron tidak berkata apa-apa.Sorot matanya tetap dingin, bahkan nyaris tanpa emosi, seolah hanya sedang menyaksikan mangsa yang perlahan kehilangan seluruh harapan hidupnya.Bersamaan dengan luka fatal yang terus menguras darahnya, aliran sihir yang menopang ramuan penyamar mulai kacau. Konsentrasi Damian runtuh. Dalam sekejap, selubung ilusi yang menyelimuti tubuhnya pecah tak berbekas.​Detik itu juga, sosok Damian yang awalnya tak kasatmata kini mendadak muncul begitu saja di hadapan semua orang.Para prajurit yang sejak tadi hanya melihat Aaron bertarung dengan ruang kosong langsung membelalak."Itu—""Ada orang di sana!""Jadi benar-benar ada penyusup!"Suara keterkejutan bersahutan memenuhi hutan pinus.Beberapa prajurit bahkan refleks mengangkat senjata mereka, sementara ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   219. Pengakuan Sang Pembantai

    Keheningan hutan pinus mendadak terasa begitu menyesakkan. Di atas tanah basah yang telah ternoda darah, Aaron masih menatap pria bermantel hitam itu dengan sorot mata dingin yang sanggup membekukan siapa pun.Cakar tajamnya tetap menancap di dada kiri Damian, menahan pria itu agar tidak bergerak sedikit pun.Dengan tangan yang lain, Aaron perlahan merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah cincin bermata merah, benda yang sejak beberapa waktu terakhir tak pernah lepas dari genggamannya.Kilau batu merah itu memantulkan cahaya redup di sela-sela pepohonan pinus."Damian...." Suara Aaron terdengar datar, namun dinginnya menusuk hingga ke tulang. Ia mengangkat cincin itu tepat di depan wajah lawannya. "Kamu tahu ini apa?"Begitu melihat cincin tersebut, mata Damian langsung melebar."B-bagaimana ... cincin itu bisa ada padamu?" tanyanya spontan.Kepanikan yang muncul di wajahnya tak sempat lagi ia sembunyikan.Sudut bibir Aaron terangkat tipis."Kenapa?" tanyanya pelan. "Apa cincin

  • Anak Rahasia Sang Alpha   218. Terdesak

    ​Pria bermantel hitam itu sadar bahwa lari bukanlah lagi sebuah pilihan. Dalam sepersekian detik, jemarinya bergerak liar, menembus saku mantelnya dan melayangkan sebuah pukulan fatal berlapis sihir penembus ke arah dada Aaron.​Namun, Aaron hanya menyeringai kejam.​BAM!​Tanpa berkedip, sang Alpha tidak sedikit pun menghindar. Dengan kecepatan yang melampaui batas wajar makhluk supernatural biasa, Aaron menyambut serangan itu dengan terkaman mautnya sendiri.​Pertarungan sengit pecah seketika di tengah hutan pinus.​Setiap benturan fisik di antara keduanya menciptakan dentuman hebat yang menggetarkan udara di sekeliling mereka.Gerakan mereka secepat kilat, hanya menyisakan guratan bayangan hitam dan kilatan perak keemasan yang saling menabrak dari satu pohon ke pohon lainnya. Batang-batang pinus tua tumbang dan hancur luluh lantak akibat hantaman liar pertarungan itu.​Di sekeliling area pertempuran, para prajurit werewolf berdiri membatu dengan ketegangan memuncak. Di mata telanja

  • Anak Rahasia Sang Alpha   217. Umpan yang Sempurna

    Setelah memutuskan ikatan batin, Aldrick kembali membuka matanya. Ia harus mengulur waktu agar pria ini tidak melarikan diri sebelum Aaron tiba. ​"Kamu begitu yakin Aaron akan jatuh?" tanya Aldrick kembali memancing percakapan, mencoba mengalihkan perhatian lawannya. "Kamu bicara seolah-olah kamu mengerti segalanya tentang Alpha kami." ​Pria bermantel hitam itu melangkah mundur satu langkah, jemarinya bergerak halus di dalam saku mantelnya. "Cinta membuatnya lemah, Aldrick. Seorang Alpha yang bertindak berdasarkan perasaan pada seorang wanita ... sangat mudah diprediksi." ​"Atau mungkin," sahut Aldrick dengan nada mengejek, sengaja melangkah maju setengah langkah untuk mengunci ruang gerak pria itu, "kamu hanya terlalu takut untuk berhadapan langsung dengannya tanpa ramuan pelindungmu ini?" ​Pria itu menyipitkan mata, menyadari permainan kata Aldrick. "Kamu terlalu banyak bicara hari ini, Beta. Dan dari cara matamu menatapku ... kamu sedang menunggu seseorang, bukan?" ​Di sekeli

  • Anak Rahasia Sang Alpha   216. Membuka Bayangan

    ​Hembusan angin dingin menyelusup di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi, membawa aroma tanah basah dan embun pagi yang pekat.Di sekeliling area rumah Nenek Fay, atmosfer terasa begitu mencekam. Pola penjagaan telah diperketat, puluhan prajurit werewolf pilihan berdiri sigap dengan posisi saling melengkapi, mata dan telinga mereka siaga menangkap ancaman sekecil apa pun.​Namun, di tengah kepungan yang tak tertembus itu, Aldrick melangkah masuk ke dalam area hutan dengan tenang.​Tangan kanannya merogoh saku mantel. Jarinya menggenggam sebuah botol kaca mungil berisi cairan bening dengan kilau keemasan yang samar. Tanpa ragu, Aldrick membuka tutup botol itu dan menenggak isinya sampai habis.​Cairan itu terasa dingin menusuk tenggorokan, lalu seketika membakar seluruh saraf indranya. Penglihatan Aldrick membias sejenak, pupil matanya membesar dan berkilat keemasan saat ramuan khusus itu bekerja menetralisir manipulasi penglihatan di sekitarnya.​Saat matanya kembal

  • Anak Rahasia Sang Alpha   215. Untuk Kaum Kita

    Keheningan masih menyelimuti benteng bawah tanah. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun berani memecahkan suasana. Semua mata tertuju pada Aaron yang masih berada di sisi jasad pria itu. Beberapa saat kemudian, Aaron berdiri perlahan. Ia mengalihkan pandangannya kepada Adrian. "Adrian." "Ya, Alpha." "Pastikan dia dimakamkan dengan layak." Adrian tampak ragu sejenak. "Dia baru saja berusaha membunuh Anda, Alpha." Aaron kembali memandang jasad pria itu. "Dia memang datang sebagai penyerang, tapi dia pergi sebagai bagian dari kaum kita." Tatapannya tetap tenang. "Cari makam keluarganya. Jika masih dapat ditemukan, makamkan dia di samping mereka." Adrian menundukkan kepala dalam. "Dimengerti, Alpha." Ratusan anggota klan masih berdiri di tempat masing-masing. Para pekerja proyek, para insinyur, hingga para prajurit yang sedari tadi menyaksikan semuanya hanya bisa menundukkan kepala. Tidak lagi karena aturan, melainkan karena rasa hormat. "Perang telah merenggut terlalu bany

  • Anak Rahasia Sang Alpha   99. Ayah yang Memilih Racun

    Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   94. Tatapan yang Berubah

    Beliau berdiri di dekat mobil sambil menatapku tanpa bergerak sedikit pun.Senyumku perlahan memudar. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun selain angin sore yang berembus pelan di antara pohon-pohon pinus.Aku masih berdiri di sana dengan perasaan bahagia yang belum hilang sedikit pun, sem

  • Anak Rahasia Sang Alpha   93. Penantian Fay

    Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek

  • Anak Rahasia Sang Alpha   1. Malam yang Seharusnya Tidak Terjadi

    “Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status