Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang laki-laki yang wajahnya sengaja dibuat nelangsa: Aris.Aris datang bukan dengan tangan kosong. Di sampingnya ada Mbak Ratna yang terus-menerus mengusap air mata buaya dengan ujung jilbabnya, dan di depan mereka tergeletak sebuah map cokelat berisi foto-foto yang sudah disiapkan dengan licik.Bapak Kinan, Pak subroto, duduk di sudut ruangan dengan punggung yang bungkuk, seolah beban langit baru saja jatuh menimpa pundaknya. Wajahnya yang legam karena puluhan tahun bertani kini tampak pucat pasi. Ia tidak berani menatap mata tetangga-tetangganya. Malu. Sebuah kata yang lebih mematikan daripada peluru bagi orang tua di kampung."Pak Subroto," suara Pak Kades memecah ke
Last Updated : 2026-03-07 Read more