Lima Tahun Kemudian...Desa itu masih sama, namun rumah kayu Bapak kini sudah lebih kokoh. Terasnya sudah diubin dengan tegel abu-abu yang sejuk, tempat favorit seorang anak laki-laki berusia lima tahun untuk menyusun balok-balok kayunya menjadi gedung-gedung tinggi yang megah. Anak itu bernama Bumi. Nama yang diberikan Kinan dengan harapan ia akan menjadi sosok yang berpijak kuat, tenang, dan memberi kehidupan bagi sekitarnya.Kinan berdiri di ambang pintu, memperhatikan Bumi dari kejauhan. Wajah Bumi adalah salinan sempurna dari Aris. Alisnya yang tebal, sorot matanya yang tajam saat fokus, hingga cara dia mengatupkan bibirnya saat merasa tidak puas. Setiap kali Kinan menatap Bumi, ada rasa cinta yang membuncah, namun di sudut hatinya yang paling gelap, ada rasa ngeri yang merayap. Ia seperti sedang membesarkan musuh lamanya dalam bentuk yang paling suci."Bumi, ayo mandi. Nanti sore kita mau ke pasar sama Kakek," panggil Kinan lembut.Bumi tidak menjawab. Ia tetap fokus pada ba
Last Updated : 2026-03-11 Read more