Mobil Bima melaju membelah kegelapan jalan raya Tangerang yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan yang kuning pucat berkelebat lewat jendela, seperti kilasan ingatan yang ingin Kinan hapus. Di tangannya, ponsel itu masih menyala, menampilkan titik koordinat yang dikirim oleh nomor misterius tadi. Sebuah kawasan industri tua yang sudah setengah terbengkalai."Kin, kamu sadar kan ini bahaya?" suara Bima terdengar tegang. Tangannya mencengkeram kemudi sampai buku jarinya memutih. "Kita harusnya lapor polisi, bukan malah datang sendiri kayak gini.""Polisi butuh waktu, Bim. Prosedur, surat tugas, koordinasi... Siska bisa mati sebelum mereka sampai," Kinan menatap lurus ke depan. Matanya yang biasanya lembut kini tampak setajam silet. "Siska itu satu-satunya orang yang tahu ke mana saja aliran dana itu mengalir selain ke rekening palsu atas namaku. Dia itu asuransi nyawaku di pengadilan nanti."Bima menghela napas panjang, namun ia tetap menginjak gas lebih dalam. Ia tahu, Kinan yang sekaran
Last Updated : 2026-03-09 Read more