"Kak Zero," bisik Sylvia, suaranya lirih. "Apa aku benar-benar tak punya kesempatan?" Zero menghela napas. Rasanya risih dengan sentuhan Sylvia yang lancang padanya. "Minggir," katanya dengan ketus, sambil mendorong Sylvia menjauh darinya. Sylvia sedikit terdorong. Matanya langsung berkaca-kaca, kepalanya tertunduk. Zero menoleh ke belakang dan menegaskan. "Kamu muridku, Sylvia. Itu saja. Dan itu tidak akan pernah berubah." Sylvia menggigit bibir, memberanikan diri untuk mendongak. "Tapi—" "Cukup! Aku tidak mau mengulangi perkataanku lagi," potong Zero geram, satu tangan menunjuk padanya. "Dan ke depannya, jangan lagi menyakiti perasaan Violet. Jika tidak, aku tak akan memaafkanmu." Sylvia terdiam. Air matanya jatuh membasahi wajahnya. Bukan hanya karena cintanya ditolak mentah-mentah, tapi sikap Zero yang berubah drastis setelah mengenal Violet. 'Padahal dulu kamu hanya bersikap hangat padaku,' batinnya lirih, terasa sesak di dada. Zero mendengus, tak ingin membuan
続きを読む