로그인“Bajingan! Keparat! Mati saja kamu! Mati! Mati!”
Rayden memukuli wajah Vince yang tampan itu dengan kepalan tinjunya. Terhitung lebih dari sepuluh kali dia menghantamkannya pada Vince.Sayangnya, Vince seperti memiliki ajian kebal diri. Pria itu bahkan masih bisa mendorong Rayden, setelah Rayden membuatnya babak belur.Rayden terjengkang ke belakang, dia jatuh terduduk di karpet dengan kasar. Dia kesal pada diri sendiri—terlalu kesal karena dia harus menjadi pria bDi rumah sakit.Sudah tiga jam lamanya Rayden berdiri mematung di depan kaca besar ruang ICU, namun ibunya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Di dalam ruangan steril itu, tubuh Rita tampak ringkih dikelilingi oleh berbagai kabel medis dan monitor yang berbunyi ritmis.Ingatan Rayden kembali pada kepanikan subuh tadi. Setelah dokter di klinik swasta menyatakan Rita terserang stroke mendadak. Hal itu ditandai dengan kesadaran yang menurun drastis dan sudut bibir sang ibu yang mulai meleyot ke satu sisi. Pihak klinik langsung angkat tangan. Mereka menyarankan Rega untuk segera melarikan wanita tua itu ke rumah sakit besar yang memiliki fasilitas penanganan stroke akut.Kini, Rita telah ditangani secara intensif oleh tim dokter spesialis saraf. Namun, statusnya yang masih tak sadarkan diri di dalam ruang ICU membuat atmosfer di koridor rumah sakit itu terasa begitu mencekam.Rayden menghela napas panjang, menyandarkan
“Benar, ‘kan?” timpal Ken pelan. Ia rasa, wanita tua itu memang pantas mendapatkannya. “Itu namanya karma instan karena sudah keterlaluan dan mau mencelakai kamu di altar kemarin. Biar dia tahu rasa!” “Ken! Jaga bicaramu, tidak baik menyumpahi orang yang sedang sakit,” tegur Meisya cepat sambil menyenggol lengan putranya, meski di dalam hati kecilnya ia pun masih menyimpan rasa dongkol atas perlakuan Rita pada Aurin.Ken ikut menarik napas panjang. Meski ia terlihat biasa saja pasca kejadian mengerikan tadi, namun jauh di lubuk hatinya ia menyimpan dendam kesumat pada Rita. Rahangnya sempat mengeras saat kalimat ketusnya tadi ditegur oleh sang mama.Ia bahkan membayangkan betapa kehilangannya ia jika sampai Aurin tertusuk tusuk konde tadi. Membayangkan anak-anak harus kehilangan ibunya, dan bagaimana hancurnya keluarga mereka jika wanita tua itu berhasil melaksanakan niat busuknya. Bagi Ken, Aurin adalah adik kecil yang harus ia lindungi, dan melihatnya nyaris celaka membuat naluri
“Apa? Stroke?”Rayden tersentak bangun, sisa kantuknya menguap seketika. Ia baru saja terlelap satu jam yang lalu setelah melewati malam yang panjang dan intim bersama Aurin. Namun, kini ia terpaksa menegakkan punggung dengan raut wajah yang berubah tegang lantaran sambungan telepon dari Rega, asisten pribadinya, membawa kabar buruk tentang kondisi sang ibu.Dari seberang telepon, Rega menjawab dengan nada berat dan penuh penyesalan. “Benar, Tuan. Tekanan darah Nyonya Besar melonjak sangat tinggi karena ledakan emosi yang luar biasa saat insiden di pernikahan tadi. Ditambah lagi dengan benturan keras saat beliau terjatuh di tangga altar, hal itu memicu pecahnya pembuluh darah di bagian otak yang vital. Dokter menyatakan bahwa akumulasi syok berat dan trauma fisik tersebut menyebabkan Nyonya Besar mengalami stroke mendadak.”“Ya Tuhan ….” Usai meraup wajahnya, Rayden terdiam namun napasnya masih memburu.Pikirannya seketika melayang pada sosok ibunya yang tadi pagi masih penuh dengan
“Tuan, Nyonya Besar—”Salah seorang pengawal yang berada paling dekat dengan posisi jatuhnya Rita menoleh ragu ke arah altar, menunggu instruksi lebih lanjut.“Biarkan saja. Bawa dia pergi!” titah Rayden santai. Suaranya terdengar begitu dingin dan datar, seolah wanita yang baru saja berguling di undakan tangga itu bukanlah orang yang penting dalam hidupnya.Padahal, jauh di lubuk hatinya, sang ibu tetaplah sosok yang sangat penting. Namun, karena tindakan Rita yang sudah melampaui batas—bahkan nyaris mencelakai Aurin dan merusak hari paling sakral dalam hidupnya—Rayden terpaksa menyingkirkannya dulu sementara waktu demi keselamatan semua orang.Rega, asisten pribadi Rayden yang sejak tadi bersiaga di bawah altar, langsung tanggap. Tanpa membuang waktu, ia segera mengkoordinir panitia acara dan memberi isyarat tegas kepada beberapa anak buahnya untuk mengangkat tubuh Rita dari lantai marmer.Namun, begitu tubuh wanita paruh baya itu diangkat, kepala Rita terkulai lemas. Ternyata ia su
“Apa kamu bilang? Mau membuangku?!”Rita memekik dengan nada tinggi, tak percaya dengan kelancangan wanita di hadapannya. Ia meringis kesal karena cengkeraman tangan Aurin pada lengannya masih mengunci kuat, membuatnya tak bisa berkutik. Mengabaikan rasa sakitnya, Rita langsung menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Rayden, mencoba memprovokasi putranya agar tidak terpengaruh oleh ucapan Aurin.“Kamu dengar sendiri, ‘kan? Baru jadi pacarmu sebentar saja, dia sudah berani mengancam Mama! Lihat satu atau dua tahun lagi, kamu akan dikuasai sepenuhnya olehnya! Jadi, dia itu bukan wanita baik-baik, Rayden. Buka matamu! Jangan buta hanya karena cinta! Dia itu hanya wanita miskin yang mau panjat sosial menggunakan nama keluarga Hartono!”Rayden tidak terpancing. Ia melangkah maju dengan tenang, mengikis jarak di antara mereka. Bukannya membalas makian sang mama dengan urat yang tegang, Rayden justru berjongkok dengan anggun di hadapan Rita yang posisinya masih sedikit membungkuk menahan
“Jangan sakiti anakku!”Meisya, yang sedari tadi berada di bawah altar bersama Ken dan Kaylin, menjerit lantang dengan suara yang melengking panik. Pertahanannya runtuh seketika saat melihat ujung logam tajam itu mengancam nyawa putri kandungnya. Namun, gerakannya yang hendak menerjang maju untuk mendekati Rita dan Aurin langsung ditahan kuat oleh Ken.“Hentikan, Ma! Jangan mendekat! Semakin Mama dekat, Mei-Mei bisa semakin celaka!” tegur Ken dengan napas memburu. Kedua tangannya mencengkeram bahu sang mama, menahan bobot tubuh Meisya yang terus merangsek maju. Teguran Ken sebetulnya sangat masuk akal. Dalam kondisi psikologis Rita yang sedang tidak stabil, gerakan mengejutkan justru bisa memicu instingnya untuk langsung menusuk Aurin.Meisya masih terus memberontak di dalam dekapan putra sulungnya, menangis histeris dengan tenaga yang kian terkuras. Bagaimana tidak? Melihat putrinya yang mengenakan gaun pengantin kini sedang diancam dengan senjata tajam seperti itu, ia takut seten
“Yakin hanya mau tiga anak?” tanya Aurin dengan nada setengah menggoda, meskipun guratan lelah masih tercetak jelas di wajah cantiknya.“Melihat perjuanganmu seberat ini, saya yakin hanya mereka saja.” Rayden menimpali tanpa keraguan sedikit pun.Matanya menatap lekat ke arah Aurin, menyampaikan s
“Anak saya menangis! Bagaimana ini? Apa dia tidak nyaman? Atau infusannya menusuk terlalu dalam? Atau kau tadi mencubitnya?” Suster itu terkejut, tubuhnya tegang begitu dicecar oleh Rayden. “Hah?” "Kamu apakan anak saya tadi sampai dia menangis seperti ini?” Rayden terus mendesak. Bayi-bayi ini
“Kuno?” Rayden mengernyitkan alis, tidak terima dengan julukan itu di tengah situasi genting seperti ini. “Kuno bagaimana maksudmu, Ko?”“Ya memang kuno. Kamu itu cerdas, tapi di saat-saat tertentu kamu mendadak bodoh,” sahut Ken santai sembari melipat kedua tangan di dada. “Dengar, Rayden! Tes DNA
“Surprise!”“Kalian?”Aurin benar-benar terkejut yang luar biasa. Matanya membelalak menatap sekeliling ruangan dengan rasa tidak percaya yang membuncah di dada.Alih-alih bernuansa medis yang kaku dan dingin, ruangan itu telah disulap dengan dekorasi yang sangat indah dan hangat. Balon-balon berw







