LOGINPertanyaan itu menggantung di udara. Yuna tidak langsung menjawab. Tangannya refleks mencengkram ujung rok di bawah meja dengan napasnya tertahan.
Darren tidak mengalihkan pandangan sedikit pun, dan justru … itu yang membuat Yuna semakin tertekan.Kalau ia jujur, semuanya akan hancur. Tapi kalau ia berbohong lagi, ia justru bakal menjerat dirinya lebih dalam dengan kebohongan yang sama.“Saya …” suaranya serak, hampir hilang. “Cuma karyawan di firmanya.”DSenin pagi di penthouse Kai terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Cahaya matahari pagi menembus jendela besar ruang makan sementara aroma roti panggang dan kopi hangat memenuhi udara. Namun meski suasana terlihat normal, tubuh Yuna sebenarnya belum benar-benar pulih sepenuhnya. Demamnya memang sudah turun, dan kepalanya juga tidak terlalu berat lagi. Tapi masih ada sisa lemas yang membuat tubuhnya terasa sedikit ringan saat bergerak terlalu cepat. Meski begitu, pagi ini Yuna tetap bersikeras untuk masuk kerja. Karena semakin lama ia tinggal diam di penthouse sambil terus diperhatikan Kai seperti pasien, semakin tidak nyaman perasaannya sendiri. Pria itu sudah terlalu banyak membantunya selama dua hari terakhir. Dan itu membuat Yuna mulai takut dirinya benar-benar terbiasa menerima perhatian Kai begitu saja. Yuna duduk di meja makan sambil memakan sarapan perlahan. Sesekali ia meniup teh hangat di tangannya sambil berusaha terlihat biasa saja. Di sebera
Yuna tidak tahu sudah berapa lama dirinya diam di dalam pelukan Kai. Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi setelah memeluknya dari belakang tadi. Hanya kehangatan tubuh Kai dan satu tangan besar yang sesekali mengusap pelan rambutnya, membuat sesak di dada Yuna perlahan sedikit mereda. Dan justru karena itu … air mata Yuna terasa semakin sulit berhenti. Kai Verazo benar-benar aneh. Pria itu bisa sedingin es di satu waktu, lalu beberapa saat kemudian berubah menjadi seseorang yang diam-diam menopangnya tepat saat dirinya hampir runtuh. Pelukan Kai terasa terlalu tenang dan terlalu nyaman. Dan itu justru berbahaya. Karena semakin lama … Yuna mulai takut dirinya akan benar-benar terbiasa merasa tenang saat berada di dekat pria itu. Kai akhirnya bergerak sedikit sambil menunduk pelan ke arah Yuna. “Sudah nangisnya?” Nada suaranya tetap rendah dan datar seperti biasa. Namun justru itu yang membuat Yuna buru-buru mengusap wajahnya malu. “S-saya nggak nangis.” Kai langsung berdeca
Suasana penthouse terasa jauh lebih tenang setelah Yuna selesai makan siang. Semangkuk sop daging hangat tadi benar-benar membuat tubuhnya terasa sedikit lebih baik dibanding pagi tadi. Setidaknya kepalanya tidak lagi terlalu berat, dan tubuhnya juga terasa lebih ringan setelah sesi reflexology tadi. Yuna perlahan membereskan meja makan sambil membawa mangkuk dan sendok bekasnya ke dapur. Air hangat mengalir pelan dari keran wastafel ketika Yuna mulai mencuci piring satu per satu dengan gerakan santai. Namun di tengah kegiatannya, matanya sempat melirik ke arah lorong ruang kerja Kai. Kai belum keluar lagi? Bukannya pria itu belum makan siang? Tanpa banyak berpikir, Yuna menyisakan sop daging yang tadi di pesan Kai ke dalam panci kecil. Ia menaruhnya di kompor agar mudah dipanaskan nanti. Beberapa menit kemudian, Yuna berjalan pelan menuju ruang tengah sambil membawa segelas air putih. Ia duduk santai di sofa besar penthouse sebelum mengambil obat yang sudah disiapkan Kai di ata
“NIKAH?!” Suara Yuna langsung memecah kamar tamu dengan nada panik setengah mati. Wanita terapis itu malah tertawa kecil geli melihat reaksinya. “Aduh, Nona lucu sekali.” Wanita itu masih tersenyum hangat sambil memijat pelan tubuh Yuna. “Memangnya salah kalau saya mendoakan hubungan kalian serius?” “S-salah besar!” bantah Yuna cepat dengan wajah memanas. “Kami benar-benar bukan pasangan!” Namun sebelum wanita itu sempat membalas lagi, Kai justru menanggapinya santai sambil masih memegang tablet kerjanya. “Saya tidak keberatan.” Yuna langsung membeku total hingga hening langsung menyergap di ruangan itu. Bahkan wanita terapis itu ikut terdiam sepersekian detik sebelum matanya langsung berbinar senang. “Nah kan!” serunya puas. “Pak Kai saja mengakuinya!” “KAI?!” Yuna langsung menoleh tidak percaya. Namun pria itu tetap terlihat tenang seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa. Sementara Yuna sendiri mulai benar-benar panik sekarang. Pernikahan?! Di novel asli,
Yuna langsung panik setengah mati Tunggu dulu …. Jangan-jangan wanita ini salah paham terlalu jauh?! Soalnya sejak tadi Kai memang mengantarnya sendiri, menyuruh fokus di bagian tubuh tertentu, sampai bicara seolah sudah sangat mengenal kondisi tubuh Yuna. Jangan bilang terapis ini mengira mereka pasangan sungguhan? “B-bukan!” bantahnya cepat sambil buru-buru menoleh. “Saya bukan pacarnya!” Wanita itu malah tertawa kecil geli. “Aduh, Nona langsung panik begitu.” “Saya serius,” desak Yuna cepat. “Hubungan kami bukan seperti itu!” Wanita terapis tersebut hanya tersenyum samar sambil kembali memijat area bahu Yuna dengan gerakan profesional dan nyaman. “Kalau begitu … saya malah lebih kaget lagi.” Yuna mengernyit bingung. “Maksudnya?” Wanita itu tertawa kecil sebelum berkata santai, “Karena selama ini Pak Kai terkenal dekat dengan banyak perempuan.” Yuna langsung diam. Ya, itu memang benar. Karena tidak ada yang lebih tahu soal itu selain dirinya sendiri.
“Hah?! Pijat tubuh?!” Yuna langsung menoleh tidak percaya ke arah Kai dengan mata melebar lebar. Sementara pria itu tetap duduk santai di kursinya sambil meminum kopi tanpa ekspresi. “Reflexology,” koreksi Kai datar. “Kamu pikir saya panggil siapa?” Yuna langsung tersedak udara sendiri. Sial, Yuna benar-benar salah paham! “B-bukan gitu maksud saya!” Kai melirik sekilas dengan tatapan tipis yang terasa sangat mencurigakan. Yuna buru-buru menggeleng kecil sambil mencoba mengalihkan pembicaraan. “Nggak usah panggil orang segala juga kali …” gumamnya pelan. “Saya cuma kecapekan sedikit kok. Lagian pasti repot buat Anda.” Kai langsung meletakkan cangkir kopinya pelan di meja. “Repot?” “Iya.” Yuna menggaruk pipinya canggung. “Anda sampe manggil terapis segala cuma karena saya sakit begini ….” Kai memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat sebelah alis tipis. “Kamu mau cepat sembuh, atau terus membiarkan badanmu sakit seperti ini?” Yuna langsung terdiam. Kai melanj
Yuna tersadar dengan kepala masih linglung. Cahaya putih lampu neon menyilaukan matanya, sementara bau antiseptik tajam langsung menyerbu hidungnya. Tubuhnya terasa berat, dan denyut tajam di pelipisnya membuat kepalanya hampir pecah. Ia sudah di UGD. ‘Ya Tuhan … aku pingsan di koridor tadi?’ pik
Dunia Yuna langsung jungkir balik.Apa?!Pikirannya benar-benar kosong. Ia menatap Darren dengan mata membelalak, seolah berharap pria itu tiba-tiba tertawa dan bilang ini hanya lelucon.Tapi ekspresi Darren sama sekali tidak berubah. Sementara di sekeliling mereka, bis
Yuna meringkuk di ujung ranjang, selimut menutupi dagunya. Matanya terpaku pada noda darah tipis di sprei yang mulai mengering. Tangan kanannya gemetar saat menyentuhnya, seolah bisa menghapus kejadian malam ini dari ingatan.“Ini darah pertama … demi Ibu,” bisiknya dalam hati
Pintu lift yang mengarah ke koridor Presidential Suite Hotel X terbuka pelan. Yuna melangkah keluar dengan dress hitam satin yang menempel dingin di kulitnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini, dan ia sudah memilihnya. Demi Yuvita. Demi operasi bypass. DP







