LOGINKai menghentikan kunyahan pizzanya dan terdiam sejenak. Sisa pizza dari gigitannya ia taruh kembali ke kotak saji dan ia meneguk pelan champagne-nya, seolah agar bisa membasahi tenggorokannya sebelum menjawab.Yuna memandang Kai begitu lama sambil menunggu jawaban. Jantungnya berdegup kencang saat ia memperhatikan gerakan Kai yang terlihat terlalu tenang.“Kenapa kamu malah khawatirkan Rosie?” tanya Kai tiba-tiba.Yuna duduk dengan perasaan gugup. Ia refleks meneguk champagne-nya dengan tergesa-gesa, berharap tenggorokan yang kering bisa terbasahi. Rasa pahit dan panas langsung menyengat, membuatnya meringis dalam-dalam sambil menaruh gelas kosong ke meja dengan suara tegas.“Mhh … rasanya aneh,” gumamnya sambil menggelengkan kepala.“Jawab pertanyaan saya,” perintah Kai datar.“Oke … oke,” Yuna menghela napas panjang, menahan sisa sensasi pahit dan panas yang masih tertinggal di mulut. Sejenak, kepalanya suda
Yuna keluar dari kamar mandi kamar tamu dengan handuk kecil melilit rambutnya yang masih basah. Air menetes pelan dari ujung rambut ke bahu gaun tidur longgar yang ia kenakan. Ia mengusap wajah dengan handuk sambil berusaha menenangkan pikiran yang masih berputar-putar sejak kejadian di kantor tadi.Sialan.Omongan Kai tentang ‘budak kontrak’, bahkan kehidupan pribadi Kai yang tak sengaja ia sentuh masih terngiang-ngiang seperti jarum yang menusuk pelan. Yuna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia masih sangat kesal. Untuk saat ini, ia benar-benar tidak mau bertatap muka dengan pria itu!Ia berdiri di depan cermin besar di kamar tamu sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Rambut basah, wajah lelah, mata yang masih sedikit sembab dari tangis kemarin di rumah sakit. Tapi setidaknya … Yuvita selamat. Itu yang paling penting.Yuna tersenyum sinis seraya ia melenggang ke pintu kamar tamu dan memutar kunci dengan bunyi ‘k
Yuna mundur hingga punggungnya menempel rapat ke sandaran kursi, seolah jarak beberapa senti itu bisa melindunginya.Kai juga mundur sedikit. Tatapannya tajam dan dingin, seperti sedang menilai setiap inci reaksi Yuna."Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal perempuan kemarin?"Yuna menelan ludah. Pikirannya panik, tapi mulutnya berusaha terlihat santai."Saya … cuma penasaran saja."Kai tidak puas. Ia malah melangkah lebih dekat, membuat Yuna terpojok di meja kerjanya. Ruangan yang tadinya terasa luas kini terasa seperti kotak sempit.“Penasaran?” ulang Kai dengan nada yang dingin tapi berbahaya.Yuna menggigit bagian dalam pipinya sebelum akhirnya memberanikan diri menatap kedua mata pria itu, meski dadanya naik-turun karena gugup dan panik yang bercampur aduk."Anda sendiri … kenapa Anda tidak mau jawab?" suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. "Siapa perempuan itu?""Siapapun itu bukan uru
Yuna menelan ludah kecil sebelum menjawab, berusaha menstabilkan suaranya. “Baik, Dok. Saya … masih di kantor. Lagi lembur sedikit.” Di seberang, Firas terdengar menarik napas pelan. “Masih di kantor jam segini?” suaranya tetap lembut, tapi ada nada lain yang sulit dijelaskan. “Kamu nggak terlalu memaksakan diri, Yuna?” Yuna tersenyum kecil, meski tak terlihat. “Sudah biasa, Dok. Lagian saya juga nggak terlalu capek kok.” Firas terdiam sebentar, lalu suaranya kembali terdengar yang kali ini sedikit lebih pelan. “Kamu nggak ke rumah sakit malam ini?” “Iya … rencananya besok sore baru ke sana lagi. Kenapa, Dok? Ada apa dengan Ibu?” “Kondisi Ibumu stabil … tapi masih butuh pengawasan ketat. Tadi sempat ada perubahan kecil, tapi masih dalam batas aman.” Yuna langsung menegang. “Perubahan …?” tanyanya cepat. “Tenang,” Firas menenangkan. “Bukan sesuatu yang berbahaya. Tapi kalau kamu punya waktu … mungkin lebih baik kamu lihat langsung.” Yuna terdiam. “Lagipula,” lanjut Firas
Wanita itu … pacarnya Kai? Ingatan kemarin sore langsung menyala terang di kepalanya—wanita elegan yang mencium pipi Kai di depan gedung Verazo & Associates. Yuna sebenarnya tidak begitu terkejut. Ia tahu pria predator seperti apa Kai Verazo itu. Dulu, ia juga pernah memergoki Kai berhubungan intim dengan seorang wanita di mobil. Yang membuatnya heran adalah, untuk apa Rosie mengatakan ini padanya, di depan semua orang? Ia bahkan melirik Yuna dengan tatapan tajam. “Ya … beda banget sih sama yang lain,” katanya sambil mengedikkan dagu ke arah Yuna. “Ada yang genit, sengaja kerja gak becus biar sering dipanggil Bos. Cari perhatian gitu pokoknya. Pantes aja kerjaan numpuk, kan? Biar bisa deket-deket Bos terus.” Beberapa orang di sekitar mulai berbisik-bisik. Pandangan mereka beralih ke Yuna penuh curiga dan jijik. Rosie menyeringai tipis, menikmati suasana yang mulai memanas. “Kalo dipikir-pikir, lucu ya … yang kerja beneran malah junior,” lanjutnya santai. “Yang senior? Sibuk jag
Yuna tersentak mendengar suara ceria Alya. Ia berhenti sejenak di tengah koridor, dan memaksakan senyum tipis saat menoleh ke arah Alya yang sedang berdiri di depan pantry dengan secangkir kopi di tangan. “Pagi, Alya,” jawab Yuna pelan. “Iya … cuti saya sudah selesai. Makanya aku masuk hari ini.” Alya tersenyum lebar dengan mata berbinar tulus. “Syukurlah, Kak. Aku khawatir banget kemarin. Ibu Kakak gimana? Sudah lebih baikan?” Yuna mengangguk cepat. “Keadaan Ibu sudah stabil, cuma masih perlu dirawat di ICU.” Tak lama, Yuna buru-buru melangkah mendekat, suaranya sedikit tergesa. “Ngomong-ngomong, makasih banyak ya, Alya … udah bantu gantikan kerjaan saya satu harian kemarin. Pasti numpuk banget ya? Maaf banget saya ninggalin semuanya ke kamu.” Alya menggeleng pelan dengan senyum yang tetap hangat. “Gapapa kok, Kak. Awalnya memang agak kewalahan, tapi … aku juga bisa belajar banyak dari job desk yang Kak Yuna kerjakan. Banyak hal baru yang aku pahami kemarin.” Yuna merasa d







