مشاركة

Lentera cinta

مؤلف: QuinzeeQ
last update تاريخ النشر: 2026-05-18 01:22:05

“Aku terluka secara fisik dan mental,” gerutu Hei Yan.

Mo Lin melirik malas.

“Bagian mentalmu memang sudah rusak sejak lama,” ketusnya.

Su Mu sampai harus menggigit lengan baju sendiri agar tidak tertawa terlalu keras. Sementara Ye Shuang masih berdiri diam seperti biasa.

Namun kali ini sudut bibirnya benar-benar bergerak sedikit.

Hei Yan langsung menunjuknya.

“Tunggu. Kau barusan hampir tersenyum, kan?!” ujar Hei Yan.

“Tidak,” balas Ye Shuang datar.

“Kau tersenyum!”

“Sudah ku
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penyerangan di Paviliun Giok

    Malam itu, setelah meninggalkan Paviliun Teratai, mereka semua akhirnya kembali ke Paviliun Giok. Suasana di koridor istana jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Liang Wei, Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu masih mendiskusikan rencana penyelidikan aula lama Permaisuri Shen Yurong di ruang depan paviliun, sementara Ming Zhu memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Uap hangat memenuhi kamar mandi pribadi kecil di balik tirai sutra. Aroma herbal lembut memenuhi udara. Ming Zhu perlahan menuangkan air hangat ke bahunya, mencoba menenangkan pikirannya setelah seharian penuh ketegangan. Namun entah kenapa, malam itu terasa terlalu sunyi. Ming Zhu perlahan mengangkat kepala. Tatapannya bergerak ke arah jendela kayu yang sedikit terbuka. Angin malam masuk pelan, membuat nyala lilin bergoyang samar. Dan tepat saat itu— CRAAT! Seseorang tiba-tiba menerobos masuk dari balik tirai. Mata Ming Zhu langsung membesar. Sosok berpakaian hitam itu bergerak

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kericuhan di paviliun teratai

    “Aku tidak pernah menyangka hidupku akan berakhir membersihkan kandang sambil mendengar Hei Yan menyanyikan lagu sedih tentang kebebasan,” celetuk Mo Lin. Ming Zhu tertawa makin keras. “Dia benar-benar bernyanyi?” tanya Ming Zhu dengan wajah tak percaya. Ye Shuang mengangguk kecil. “Lima belas lagu, Putri Ming,” ucap Ye Shuang datar. “PENGKHIANAT!” teriak Hei Yan. Untuk pertama kalinya bahkan Mo Lin terlihat hampir tersenyum. Sementara Liang Wei, yang biasanya akan mengusir mereka sejak awal, justru membiarkan ketiga pria itu tetap di paviliun. Hei Yan yang akhirnya duduk sembarangan langsung menyipitkan mata ke arah Liang Wei dan Ming Zhu. “Tapi serius, kenapa suasana di sini terasa lembut?” Mo Lin langsung menoleh. Ye Shuang juga perlahan mengangkat kepala. Ming Zhu langsung salah tingkah. “Tidak ada apa-apa!” ujar Ming Zhu cepat. Hei Yan menunjuk cepat. “Lihat! Dia panik!” seru Hei Yan. “Dan Yang Mulia diam saja,” tambah Mo Lin tenang. Hening. Semua ma

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Paviliun Teratai

    “Pangeran Ketiga,, kau membawa nama mendiang ibumu ke aula kerajaan hanya demi kasus racun?” ucap Permaisuri lembut. Liang Wei menatap beliau tanpa menghindar sedikit pun. “Karena keduanya mungkin berkaitan,” balas Liang Wei. Beberapa menteri langsung menunduk lebih dalam. Ucapan itu nyaris seperti tuduhan terbuka bahwa ada rahasia besar di balik kematian Permaisuri Shen Yurong dahulu. Permaisuri Zhao Lianhua tersenyum tipis. Namun kehangatan dalam senyum itu telah hilang. “Sudah bertahun-tahun aku membesarkanmu, Dan sekarang kau mulai mencurigai seluruh istana karena rumor lama?” Tatapan Liang Wei tetap dingin. “Aku tidak percaya rumor,” balasnya datar. “Lalu?” “Aku percaya bukti,” ucapnya. Suasana aula langsung semakin menyesakkan. Perdana Menteri Xu bahkan diam-diam mulai berkeringat. Karena perang dingin antara Permaisuri dan Pangeran Ketiga bukan sesuatu yang bisa dianggap ringan. Satu pihak adalah ibu resmi istana. Satu lagi adalah pangeran paling berpeng

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Menggali kasus lama

    Malam sudah sangat larut ketika Liang Wei dan Ming Zhu akhirnya kembali menuju istana. Keramaian kota perlahan tertinggal di belakang mereka. Lampion-lampion jalan mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan suasana tenang dengan angin malam yang dingin. Ming Zhu berjalan di samping Liang Wei sambil masih memegang lentera kecil tadi. Sesekali wanita itu diam-diam melirik tulisan doa milik Liang Wei lalu cepat-cepat memalingkan wajah lagi karena malu. Dan tentu saja, Liang Wei menyadarinya. “Kau sudah membacanya lima kali,” ucap Liang Wei pelan. Ming Zhu langsung tersedak sendiri. “Aku tidak menghitung!” kesalnya. Liang Wei menahan senyum tipis. Pemandangan langka yang untungnya tidak dilihat para pejabat istana. Karena empat penjaga bayangan mereka saat ini sedang berjalan cukup jauh di belakang sambil pura-pura tidak mengenal tuannya sendiri. Hei Yan masih belum pulih dari kejadian lentera tadi. “Aku bersumpah, kalau besok Yang Mulia mulai menulis puisi cinta, aku

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Lentera cinta

    “Aku terluka secara fisik dan mental,” gerutu Hei Yan. Mo Lin melirik malas. “Bagian mentalmu memang sudah rusak sejak lama,” ketusnya. Su Mu sampai harus menggigit lengan baju sendiri agar tidak tertawa terlalu keras. Sementara Ye Shuang masih berdiri diam seperti biasa. Namun kali ini sudut bibirnya benar-benar bergerak sedikit. Hei Yan langsung menunjuknya. “Tunggu. Kau barusan hampir tersenyum, kan?!” ujar Hei Yan. “Tidak,” balas Ye Shuang datar. “Kau tersenyum!” “Sudah kubilang tidak!” kesal Ye Shuang. Mo Lin menghela napas. “Berisik!” Di bawah sana, Ming Zhu masih tertawa kecil sambil berjalan di samping Liang Wei. Angin malam membuat ujung pita rambut wanita itu bergerak pelan. Liang Wei diam-diam meliriknya beberapa kali. Dan tentu saja itu tidak lolos dari pengawasan empat pria pengangguran di atas atap. Su Mu menyipitkan mata. “Dia melirik lagi,” ucap Su Mu. Hei Yan langsung menghitung dengan jari. “Kelima belas kali malam ini,” celetuk Hei

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Refreshing malam

    “Masalahnya sudah sampai sejauh ini. Ini berarti bukan hanya satu orang yang terlibat,” ucap Ming Zhu. Liang Wei menghela napasnya perlahan. “Sudahlah. Mari kembali. Biarkan Putra mahkota beristirahat,” ucap Liang Wei. “Aku akan tetap disini untuk menjaganya. Khawatir ada yang berani memberinya sesuatu untuk memancing racunnya lagi,” ujar Tuan Tianyi. Liang Wei mengangguk. Ia kemudian mengambil tangan Ming Zhu dan berjalan keluar diikuti para penjaga bayangan dan Ming Yue.~~~ Malam di istana akhirnya terasa sedikit lebih tenang setelah ketegangan panjang seharian penuh. Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, Paviliun Giok tidak dipenuhi laporan mendesak atau penjaga yang keluar masuk tergesa. Hei Yan bahkan sudah tertidur sambil bersandar di kursi luar. Sementara Mo Lin masih membaca dokumen dengan wajah datar seperti biasa. Di dalam paviliun, Ming Zhu sedang merapikan beberapa gulungan catatan ketika tiba-tiba Liang Wei muncul dari belakangnya. “Kau belum

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   tusuk konde

    “Aku akan memotong lidahnya jika kabar ini tersebar,” ucap Liang Wei. Sementara di luar, Su Mu berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Pantas Tuan sangat lembut pada Nona Ming,” gumam Su Mu kemudian pergi. “Tuan, sudah waktunya beristirahat,”

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Perilaku Liang Wei

    Malam itu, paviliun dalam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ming Zhu berdiri di depan pintu, tangannya sedikit gemetar saat mendorongnya perlahan. Ini pertama kalinya ia masuk ke bagian kediaman yang paling pribadi milik Liang Wei—tempat yang bahkan para pelayan lama pun jarang diizinkan mendekat.

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Bisikan Pelayan

    “Identitasmu akan tetap menjadi rahasia,” ucap Liang Wei. “Kenapa? Tuan bisa saja menyerahkan hamba atau menyeret hamba ke istana. Itu lebih aman bagi, Tuan,” ucap Ming Zhu. Lalu, perlahan, ia mendekat lagi—kali ini hanya beberapa senti dari wajah Ming Zhu. “Karena,” bisiknya rendah, “aku bel

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Interogasi Awal

    “Keluarga Ming?” Jantung Ming Zhu berdetak lebih kencang. Ia tahu apa maksudnya. Nama Ming bukan nama keluarga biasa. Itu adalah nama keluarga dari dinasti yang telah digulingkan. Liang Wei memiringkan kepalanya sedikit. “Apakah itu kebetulan?” Nada suaranya tetap santai. Namun setiap kata

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status