Share

Jejak baru

Penulis: QuinzeeQ
last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 23:55:10

Malam di Paviliun Giok berubah mencekam. Seluruh area ditutup rapat oleh penjaga bayangan Liang Wei. Tidak ada pelayan yang diizinkan bergerak bebas, bahkan suara langkah kaki di koridor pun nyaris tidak terdengar.

Di dalam kamar utama, Ming Zhu akhirnya selesai membersihkan luka kecil di lehernya. Ming Yue masih duduk di samping adiknya dengan wajah belum tenang sepenuhnya.

Sementara di luar ruangan, Liang Wei berdiri di aula depan bersama Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu.

Mayat pem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kembali Ke Xuanyin

    Sementara Itu di Xuanyin.Jauh dari Makam Teratai Putih, Putra Mahkota kembali mengalami kejang. Tabib istana berlarian masuk ke kamarnya. "Yang Mulia!" seru Tabib Istana. Permaisuri Zhao Lianhua berdiri di samping ranjang dengan wajah pucat. "Kenapa kondisinya tiba-tiba memburuk?" tanya Permaisuri dengan khawatir. "Racun Seribu Senja kembali aktif, Yang Mulia,” jawab Tabib Istana gugup. "Mustahil! Dia sudah menerima penawar!” ujar Permaisuri. Tabib menundukkan kepala. "Penawarnya hanya menekan racun, Yang Mulia,” ucap Tabib Istana. "Kalau begitu beri lagi!" seru Permaisuri. "Kami tidak bisa,” jawab Tabib Istana pelan. "Kenapa?" tanya Permaisuri cepat. "Karena seseorang telah mengganti ramuan penawarnya,” balas Tabib Istana. Ruangan langsung hening. "Apa?" "Ramuan yang seharusnya diberikan kepada Putra Mahkota, diganti dengan ramuan yang justru mempercepat penyebaran racun, Yang Mulia,” ujar Tabib istana. Permaisuri Zhao Lianhua memucat. "Siapa yang m

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Lambang Tiga Daun

    Ruangan bawah tanah itu terasa semakin sunyi. Ming Zhu masih berdiri di depan lukisan tua Permaisuri Shen Xinyue. "Jadi, Ibu sebenarnya berasal dari Xuanyue?" tanya Ming Zhu lagi. Penjaga Makam mengangguk. "Benar Yang Mulia. Tapi beliau bukan sekadar keturunan kerajaan,” jelas penjaga makam. Ia menatap Ming Zhu dengan serius. "Permaisuri Shen Xinyue adalah keturunan sah kerajaan Xuanyue,” lanjutnya. Ming Zhu terdiam. Liang Wei ikut menatap pria tua itu. "Kalau begitu, kenapa identitasnya disembunyikan?" tanya Liang Wei. Penjaga Makam menarik napas panjang. "Karena ketika Permaisuri Shen masih kecil, terjadi kudeta di Xuanyue. Para pemberontak membantai keluarga kerajaan. Mereka mencari satu anak yang diyakini sebagai pewaris sah. Seorang bayi perempuan. Dan itu Putri terakhir dari garis utama kerajaan Xuanyue,” jelasnya. "Para penjaga setia berhasil menyelamatkannya. Mereka membawanya keluar dari istana dan menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah dicur

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pewaris dua kerajaan

    “Jangan bicara sembarangan,” ucap Ming Zhu. Gadis itu berdiri di tengah ruangan. Di hadapannya terdapat sebuah altar batu berbentuk bunga teratai. Delapan pilar mengelilinginya, masing-masing dihiasi lambang keluarga kerajaan Dinasti Ming. Penjaga Makam berjalan perlahan menuju altar. "Yang Mulia. Ada satu hal yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun,” jelasnya. Ming Zhu menatapnya. "Apa?" tanya Ming Zhu cepat. Penjaga Makam menunjuk ke lantai. "Dinasti Ming tidak runtuh hanya karena pengkhianatan,” ujar Penjaga makam. Liang Wei langsung memperhatikan. “Lalu?” "Runtuhnya dinasti Ming, sudah direncanakan jauh sebelum perang dimulai,” jelas Penjaga makam. Jenderal Luo mengerutkan kening. "Siapa yang merencanakannya?" tanya Jenderal Luo penasaran. Penjaga Makam menggeleng. "Itulah yang selama ini tidak kami ketahui,” ucap Penjaga makam. Ia kemudian menekan salah satu batu di altar. KLIK. Seluruh ruangan bergetar. Lantai di tengah altar perlahan ter

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Surat Permaisuri Shen

    Lorong makam semakin dalam. Langkah kaki mereka menggema di antara dinding batu yang telah berusia ratusan tahun. Tidak ada suara selain tetesan air dari langit-langit makam. Liang Wei berjalan paling depan, sementara Ming Zhu berada tepat di belakangnya. Hei Yan dan Mo Lin menjaga bagian belakang. Ye Shuang serta Su Mu memeriksa setiap sudut lorong untuk memastikan tidak ada jebakan. "Pelaku ingin mempertahankan kondisi Putra Mahkota,” celetuk Tuan Tianyi sambil memikirkan simbol racun seribu senja yang baru mereka temukan. Ming Yue langsung memahami. "Untuk apa?" tanya Ming Yue. Tuan Tianyi menatapnya. "Untuk mengendalikan siapa yang akan menggantikan takhta,” ujarnya. Semua terdiam. Liang Wei mengepalkan tangannya. "Kalau Putra Mahkota meninggal, posisi pewaris jelas akan berubah,” ucapnya. Ming Zhu menatapnya. "Dan kau adalah salah satu kandidat terkuat, Liang Wei,” ucap Ming Zhu. Liang Wei tidak menjawab. Ia sudah memahami maksud sebenarnya. Selama Put

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Isi Makam Teratai Putih

    BRUKKK!Tubuh Pangeran Rui Ambruk. Darah mulai mengalir. “Liang Wei!” seru Ming Zhu menerobos maju kearah Liang Wei.Ming Zhu kemudian menoleh kearah Pangeran Rui yang sudah tergeletak tak bernyawa.“Akhirnya, aku berhasil mengambil nyawanya dengan tanganku,” ucap Liang Wei pelan.Kematian Pangeran Rui membuat pasukan Teratai Hitam kehilangan arah. Namun perang belum berakhir. Di sisi lain lembah, Wang Ji'an masih memimpin pasukannya bertahan di depan gerbang makam. "Jangan biarkan mereka mendekati gerbang!" teriak Wang Ji'an. Pasukannya kembali menyerang. Jenderal Xu Rong mengangkat pedangnya. "Pasukan Ming!" "MAJU!" Ratusan prajurit menerjang bersamaan. Benturan kedua pasukan kembali mengguncang lembah. Liang Wei menatap medan perang. "Hei Yan, Mo Lin, Kepung sisi kiri,” ucapnya. "Ye Shuang, Su Mu. Amankan sisi kanan,” lanjutnya Keempat Penjaga Bayangan langsung bergerak. Ming Zhu menggenggam pedangnya. "Aku ikut!” Liang Wei menatapnya. "Jangan terlalu memaksakan luk

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pedang Naga Hitam

    “Han Qiye, Kenapa kau begitu bodoh,” lirih Ming Zhu.Ming Zhu masih memeluk tubuh pria itu. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia teringat pertama kali bertemu Han Qiye saat masih remaja. Mereka pernah berlatih pedang bersama. Pernah bertengkar, pernah tertawa. Dan pada akhirnya mereka berdiri di sisi yang berlawanan. Han Qiye memang telah melakukan banyak kesalahan. Namun di saat-saat terakhir hidupnya, ia memilih menebus semuanya. Bahkan dengan nyawanya sendiri Liang Wei berjalan mendekat. Ia berlutut di samping jasad Han Qiye. Dengan penuh hormat, ia menutup kedua mata pria itu. "Meski kita tidak pernah menjadi kawan, kau mati sebagai seorang kesatria. Terimakasih, karena sudah menepati janjimu, untuk melindungi Ming Zhu sampai akhir hayatmu,” ucap Liang Wei pelan Air mata Ming Zhu mengalir semakin deras. Isak tangisnya membuat beberapa jenderal ikut tertegun. Jenderal Luo, Xu Rong, bahkan Tuan Tianyi ikut menundukkan kepala. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada ejekan kep

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Berhasil Keluar Dari Neraka

    “Perangkap!” Satu detik kemudian, semua penerangan diruangan itu padam. “Kita keluar sekarang!” seru Mo Lin. Namun mereka terlambat. BRAKKK! Pintu masuk tertutup dengan keras. Dan dari luar suara langkah mulai terdengar. “Sepertinya, kita tidak diundang untuk keluar hidup-hidup,” ujar H

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penawar racun

    “Jangan menakutiku,” ucap Ming Zhu pelan. “Sekarang, beristirahatlah. Aku akan mencari penawar untuk racun ini,” ujar Ming Yue kemudian bangkit. Tapi saat hendak pergi, ia melihat Su Mu dan Ye Shuang masih berdiri diam ditempat mereka. Ming Yue kemudian menarik keduanya. “Eeehh, kenapa kau me

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Target pertama

    “Segera selesaikan masalah ini. Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kaisar sebelum meninggalkan Aula. “Baik Yang Mulia!” ujar keempatnya serentak. Setelah Kaisar meninggalkan ruangan, Ming Zhu mendekat kearah Liang Wei dan membantu Pria itu berjalan keluar. “Apa rencana mu selanjutnya, Tuan?” ucap

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Menyinggung tuan muda

    Malam itu setelah kediaman mulai sunyi dan sebagian besar pelayan sudah kembali kekamar mereka, Ming Zhu bergerak perlahan. Ia menggunakan pakaian perempuan yang ia simpan diam-diam sejak awal tinggal di kediaman itu. Pakaian yang tidak terlalu mewah, tapi cukup untuk dikenal sebagai wanita baik-

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status