LOGIN“Jenderal Luo?” sahut Ming Yue dari belakang dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ming Zhu dan Ming Yue kemudian bertatapan untuk sesaat sebelum keduanya mendesak Jenderal Luo. Jenderal Luo memejamkan mata sejenak. Ia telah bersumpah kepada mendiang Kaisar Ming untuk menyimpan rahasia itu seumur hidup. Namun kini, tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikannya. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Sudah waktunya Yang Mulia mengetahui semuanya,” ucap Jenderal Luo. Ming Yue yang berdiri di samping adiknya mulai merasa gelisah. "Kebenaran apa?" tanya Ming Yue cepat. Jenderal Luo menatap kedua putri itu bergantian. "Kalian memang saudara. Tetapi, kalian lahir dari ibu yang berbeda,” jelas Jenderal Luo. Keheningan langsung menyelimuti lembah. Mata Ming Zhu membesar. Sementara Ming Yue hanya terpaku. Bibi Lan menundukkan kepala perlahan. Air matanya menetes. Jenderal Luo mulai mengisahkan masa lalu. "Sebelum Dinasti Ming mencapai masa kejayaannya, Yang Mulia Kaisar Ming menikahi P
Suara benturan pedang bergema di seluruh lembah. Dentang logam bersahutan dengan teriakan para prajurit. Di depan gerbang batu, pasukan Wang Ji'an telah lebih dahulu berhadapan dengan kelompok berjubah hitam yang membawa lambang Teratai Hitam. Untuk sesaat, kedua kubu justru saling menyerang. Liang Wei yang mengamati dari balik bebatuan langsung menyadari sesuatu. "Mereka berebut untuk masuk,” ucapnya pelan. Jenderal Luo mengangguk. "Masing-masing ingin menjadi yang pertama menemukan isi makam,” sahut Jenderal Luo. Mo Lin menyipitkan mata. "Itu menguntungkan kita, Yang Mulia,” ucap Mo Lin. Liang Wei menggeleng. "Tidak. Begitu mereka sadar kita ada di sini, mereka akan bersatu melawan kita. Dan itu sangat berbahaya bagi Ming Zhu,” ucap Liang Wei. Di tengah kekacauan itu, seorang pria berjubah putih perlahan melangkah ke tengah lembah. Semua pertempuran seolah berhenti sesaat ketika sosok itu muncul. Ming Zhu langsung menegang. Wajah yang sejak dulu menghantui mi
Kini semuanya menjadi masuk akal. Mengapa Wang Ji'an bersusah payah mencari Ming Zhu. Mengapa Pangeran Rui tidak pernah menyerah memburunya. Mereka membutuhkan darah pewaris Dinasti Ming. Ming Zhu menarik napas panjang. Kemudian tanpa ragu, ia mengeluarkan belati kecil. Namun sebelum bilah itu menyentuh telapak tangannya, Liang Wei menahan pergelangan tangannya. "Tunggu,” ucapnya pelan. Ming Zhu menatapnya. "Bagaimana jika ini jebakan?" ucap Liang Wei. Jenderal Luo segera menjawab, "Jika tidak dibuka sekarang, kita akan kehilangan kesempatan, Pangeran,” ujar Jenderal Lup. Liang Wei tetap tidak melepaskan tangannya. Tatapannya mengarah ke dinding batu. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Lalu, Mo Lin yang sedang mengamati sekitar tiba-tiba berseru pelan. "Yang Mulia,” ucapnya pelan. Semua menoleh. Mo Lin menunjuk ke arah tanah di dekat gerbang batu. Ada bercak darah yang masih segar. Tidak jauh darinya tergeletak sebuah pedang patah. Hei Yan memung
Fajar mulai menyingsing di balik Pegunungan Baiyun. Dari atas tebing, rombongan Liang Wei masih mengamati dua pasukan yang saling berhadapan di lembah. Untuk sementara, tidak ada yang bergerak. Ketegangan di bawah justru memberi waktu bagi mereka untuk beristirahat sejenak. Hei Yan, Su Mu, Mo Lin, dan Ye Shuang berpencar memeriksa jalur yang akan mereka lalui berikutnya. Tuan Tianyi memanfaatkan waktu itu untuk memeriksa kembali luka lama Ming Zhu. "Syukurlah lukanya sudah menyatu dengan baik," gumamnya. "Tetapi jangan memaksakan diri bertarung terlalu lama,” lanjutnya dengan sedikit sewot. Ming Zhu mengangguk. "Aku mengerti, Tuan. Terimakasih,” balas Ming Zhu. Setelah Tuan Tianyi pergi, Ming Zhu berjalan perlahan menuju sebuah batu besar di tepi tebing. Dari sana, reruntuhan bekas wilayah Dinasti Ming tampak samar di kejauhan. Liang Wei menghampirinya tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat, mereka hanya berdiri berdampingan menikmati embusan angin pagi. "Apa yang k
Malam itu juga tanpa membuang waktu, rombongan Liang Wei segera meninggalkan desa di bawah pimpinan Jenderal Luo. Mereka tidak membawa banyak perbekalan. Kecepatan jauh lebih penting daripada kenyamanan. Langit dipenuhi awan gelap. Hanya cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan, menerangi jalan setapak menuju Pegunungan Baiyun. Jenderal Luo berlari di barisan paling depan. "Jika perkiraanku benar, pasukan Wang Ji'an mengambil Jalur Naga Batu,” ucapnya. "Apakah itu jalan tercepat?" tanya Liang Wei. "Bukan, Yang Mulia,” jawab Jenderal Luo. "Kalau begitu kenapa mereka memilihnya?" tanya Liang Wei. "Karena jalur itu cukup lebar untuk dilalui ratusan prajurit,” jelas Jenderal Luo. "Tetapi ada jalan lain yang lebih sempit. Hanya orang-orang Dinasti Ming yang mengetahuinya,” lanjutnya. Ming Zhu langsung memahami maksudnya. "Jalur itu akan memotong perjalanan mereka,” ucap Ming Zhu cepat. Jenderal Luo mengangguk. "Benar, Yang Mulia,” ucap Jenderal Luo. Liang Wei seger
Kaisar dan Kasim tua itu saling melirik. “Yang Mulia, ini—“ Perkataan kasim itu terputus. “Permainan mereka telah dimulai,” sela Kaisar sembari menghela nafasnya. Sementara itu, jauh di selatan, di bekas wilayah Dinasti Ming. Desa kecil di kaki Pegunungan Baiyun masih diselimuti ketegangan setelah kemunculan pasukan berpanji gagak hitam. Namun anehnya, mereka tidak langsung menyerang. Jenderal bertopeng yang memimpin pasukan itu hanya menghentikan kudanya sekitar seratus langkah dari gerbang desa. Tatapannya lurus mengarah kepada Ming Zhu. "Putri Ming,” ucapnya. Suara beratnya bergema. "Ikutlah denganku,” lanjutnya. Hei Yan langsung tertawa sinis. "Kalau mau mengundang orang, setidaknya turun dulu dari kudanya!” seru Hei Yan. Su Mu mengangguk. "Dan bawa hadiah!” sambung Su Mu. "Diamlah!” celetuk Mo Lin Mo Lin menepuk kepala keduanya pelan. Di tengah candaan mereka, Liang Wei melangkah satu langkah ke depan Ming Zhu. Pedangnya masih berada dalam sarung.
SHHKKK! Sebuah anak panah berhasil merobek lengan Ming Zhu. “Ouch,” rintihnya. “Kau tidak papa?” ujar Liang Wei sembari menangkap Ming Zhu. “Aku baik-baik saja, Tuan,” ucapnya berbohong karena penglihatan Liang Wei tidak cukup jelas untuk melihat luka Ming Zhu. “Tuan, penyergapan!” ujar s
“Segera selesaikan masalah ini. Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kaisar sebelum meninggalkan Aula. “Baik Yang Mulia!” ujar keempatnya serentak. Setelah Kaisar meninggalkan ruangan, Ming Zhu mendekat kearah Liang Wei dan membantu Pria itu berjalan keluar. “Apa rencana mu selanjutnya, Tuan?” ucap
“Tidak. Justru tepat waktu,” ucap Liang Wei. Ming Zhu dengan cepat bangkit dari ranjang dan berjalan kearah Ming Yue. “Berikan obatnya padaku, Kak,” ucap Ming Zhu. Nada suaranya kembali dingin. Terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja berbagi ranjang. Ming Yue berjalan masuk perlahan, masi
“T-tapi aku bisa berjalan sendiri,” gugup Ming Zhu. “Aku tahu. Tapi malam ini, biar aku yang melakukannya,” bisik Liang Wei. Ming Zhu terdiam sejenak. Ia tidak benar-benar melawan meski alisnya sedikit berkerut, dan tatapannya tajam seperti biasa. Namun anehnya, ia tidak meminta diturunkan lagi







