로그인Sementara Itu di Xuanyin.Jauh dari Makam Teratai Putih, Putra Mahkota kembali mengalami kejang. Tabib istana berlarian masuk ke kamarnya. "Yang Mulia!" seru Tabib Istana. Permaisuri Zhao Lianhua berdiri di samping ranjang dengan wajah pucat. "Kenapa kondisinya tiba-tiba memburuk?" tanya Permaisuri dengan khawatir. "Racun Seribu Senja kembali aktif, Yang Mulia,” jawab Tabib Istana gugup. "Mustahil! Dia sudah menerima penawar!” ujar Permaisuri. Tabib menundukkan kepala. "Penawarnya hanya menekan racun, Yang Mulia,” ucap Tabib Istana. "Kalau begitu beri lagi!" seru Permaisuri. "Kami tidak bisa,” jawab Tabib Istana pelan. "Kenapa?" tanya Permaisuri cepat. "Karena seseorang telah mengganti ramuan penawarnya,” balas Tabib Istana. Ruangan langsung hening. "Apa?" "Ramuan yang seharusnya diberikan kepada Putra Mahkota, diganti dengan ramuan yang justru mempercepat penyebaran racun, Yang Mulia,” ujar Tabib istana. Permaisuri Zhao Lianhua memucat. "Siapa yang m
Ruangan bawah tanah itu terasa semakin sunyi. Ming Zhu masih berdiri di depan lukisan tua Permaisuri Shen Xinyue. "Jadi, Ibu sebenarnya berasal dari Xuanyue?" tanya Ming Zhu lagi. Penjaga Makam mengangguk. "Benar Yang Mulia. Tapi beliau bukan sekadar keturunan kerajaan,” jelas penjaga makam. Ia menatap Ming Zhu dengan serius. "Permaisuri Shen Xinyue adalah keturunan sah kerajaan Xuanyue,” lanjutnya. Ming Zhu terdiam. Liang Wei ikut menatap pria tua itu. "Kalau begitu, kenapa identitasnya disembunyikan?" tanya Liang Wei. Penjaga Makam menarik napas panjang. "Karena ketika Permaisuri Shen masih kecil, terjadi kudeta di Xuanyue. Para pemberontak membantai keluarga kerajaan. Mereka mencari satu anak yang diyakini sebagai pewaris sah. Seorang bayi perempuan. Dan itu Putri terakhir dari garis utama kerajaan Xuanyue,” jelasnya. "Para penjaga setia berhasil menyelamatkannya. Mereka membawanya keluar dari istana dan menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah dicur
“Jangan bicara sembarangan,” ucap Ming Zhu. Gadis itu berdiri di tengah ruangan. Di hadapannya terdapat sebuah altar batu berbentuk bunga teratai. Delapan pilar mengelilinginya, masing-masing dihiasi lambang keluarga kerajaan Dinasti Ming. Penjaga Makam berjalan perlahan menuju altar. "Yang Mulia. Ada satu hal yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun,” jelasnya. Ming Zhu menatapnya. "Apa?" tanya Ming Zhu cepat. Penjaga Makam menunjuk ke lantai. "Dinasti Ming tidak runtuh hanya karena pengkhianatan,” ujar Penjaga makam. Liang Wei langsung memperhatikan. “Lalu?” "Runtuhnya dinasti Ming, sudah direncanakan jauh sebelum perang dimulai,” jelas Penjaga makam. Jenderal Luo mengerutkan kening. "Siapa yang merencanakannya?" tanya Jenderal Luo penasaran. Penjaga Makam menggeleng. "Itulah yang selama ini tidak kami ketahui,” ucap Penjaga makam. Ia kemudian menekan salah satu batu di altar. KLIK. Seluruh ruangan bergetar. Lantai di tengah altar perlahan ter
Lorong makam semakin dalam. Langkah kaki mereka menggema di antara dinding batu yang telah berusia ratusan tahun. Tidak ada suara selain tetesan air dari langit-langit makam. Liang Wei berjalan paling depan, sementara Ming Zhu berada tepat di belakangnya. Hei Yan dan Mo Lin menjaga bagian belakang. Ye Shuang serta Su Mu memeriksa setiap sudut lorong untuk memastikan tidak ada jebakan. "Pelaku ingin mempertahankan kondisi Putra Mahkota,” celetuk Tuan Tianyi sambil memikirkan simbol racun seribu senja yang baru mereka temukan. Ming Yue langsung memahami. "Untuk apa?" tanya Ming Yue. Tuan Tianyi menatapnya. "Untuk mengendalikan siapa yang akan menggantikan takhta,” ujarnya. Semua terdiam. Liang Wei mengepalkan tangannya. "Kalau Putra Mahkota meninggal, posisi pewaris jelas akan berubah,” ucapnya. Ming Zhu menatapnya. "Dan kau adalah salah satu kandidat terkuat, Liang Wei,” ucap Ming Zhu. Liang Wei tidak menjawab. Ia sudah memahami maksud sebenarnya. Selama Put
BRUKKK!Tubuh Pangeran Rui Ambruk. Darah mulai mengalir. “Liang Wei!” seru Ming Zhu menerobos maju kearah Liang Wei.Ming Zhu kemudian menoleh kearah Pangeran Rui yang sudah tergeletak tak bernyawa.“Akhirnya, aku berhasil mengambil nyawanya dengan tanganku,” ucap Liang Wei pelan.Kematian Pangeran Rui membuat pasukan Teratai Hitam kehilangan arah. Namun perang belum berakhir. Di sisi lain lembah, Wang Ji'an masih memimpin pasukannya bertahan di depan gerbang makam. "Jangan biarkan mereka mendekati gerbang!" teriak Wang Ji'an. Pasukannya kembali menyerang. Jenderal Xu Rong mengangkat pedangnya. "Pasukan Ming!" "MAJU!" Ratusan prajurit menerjang bersamaan. Benturan kedua pasukan kembali mengguncang lembah. Liang Wei menatap medan perang. "Hei Yan, Mo Lin, Kepung sisi kiri,” ucapnya. "Ye Shuang, Su Mu. Amankan sisi kanan,” lanjutnya Keempat Penjaga Bayangan langsung bergerak. Ming Zhu menggenggam pedangnya. "Aku ikut!” Liang Wei menatapnya. "Jangan terlalu memaksakan luk
“Han Qiye, Kenapa kau begitu bodoh,” lirih Ming Zhu.Ming Zhu masih memeluk tubuh pria itu. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia teringat pertama kali bertemu Han Qiye saat masih remaja. Mereka pernah berlatih pedang bersama. Pernah bertengkar, pernah tertawa. Dan pada akhirnya mereka berdiri di sisi yang berlawanan. Han Qiye memang telah melakukan banyak kesalahan. Namun di saat-saat terakhir hidupnya, ia memilih menebus semuanya. Bahkan dengan nyawanya sendiri Liang Wei berjalan mendekat. Ia berlutut di samping jasad Han Qiye. Dengan penuh hormat, ia menutup kedua mata pria itu. "Meski kita tidak pernah menjadi kawan, kau mati sebagai seorang kesatria. Terimakasih, karena sudah menepati janjimu, untuk melindungi Ming Zhu sampai akhir hayatmu,” ucap Liang Wei pelan Air mata Ming Zhu mengalir semakin deras. Isak tangisnya membuat beberapa jenderal ikut tertegun. Jenderal Luo, Xu Rong, bahkan Tuan Tianyi ikut menundukkan kepala. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada ejekan kep
Pagi turun dengan perlahan. Ming Zhu hampir tidak ingat kapan akhirnya tertidur, dan ketika suara lonceng kecil dari dapur belakang terdengar, langit baru saja mulai memucat. Ming Zhu duduk perlahan di ranjang kayunya. Beberapa detik ia hanya menatap lantai, mencoba menenangkan pikirannya. Namun b
“Ayah, Ibu, Maaf aku belum bisa menemukan Kakak,” gumam Ming Zhu didepan kaca. Ia melepas topi kasim yang menutupi rambutnya, baju, serta tali yang melilit untuk menyamarkan dada miliknya. Ia kemudian mulai melepas ikatan rambutnya dan menyisir rambut panjangnya di depan kaca sembari bersenandun
Ming Zhu berjalan menyusuri koridor kayu menuju ruang belajar. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya. Ia lebih khawatir tuan muda ini jauh lebih bahaya daripada bangsawan terdahulu yang melengserkan keluarganya. Apakah itu hanya ucapan biasa? Atau sebuah p
Kabut pagi masih menggantung di halaman kediaman itu ketika Ming Zhu melangkah melewati gerbang dalam dengan kepala tertunduk. Jubah kasim abu-abu yang dikenakannya tampak terlalu besar untuk tubuhnya, dan topi hitam menutupi rambutnya yang diikat rapat. Dari luar, ia tampak seperti kasim muda bi







