Kael menatap Althea lekat-lekat, napasnya sudah tak teratur. Jari-jarinya masih berada di pinggang Thea, menahan diri agar tidak terlalu cepat. “Kamu yakin, Sayang?” tanyanya sekali lagi, suaranya serak dan rendah. “Aku tidak mau buru-buru kalau kamu masih.” Althea memotong dengan menciumnya keras, hampir putus asa. Lidahnya menyusup masuk, menuntut. “Aku yakin,” bisiknya di sela ciuman. “Aku ingin melepaskan semuanya malam ini. Aku ingin merasakan kamu, semua kamu. Sentuh aku lebih kasar, El. Aku butuh itu.” Kata-kata itu seperti kunci yang membuka gerbang terakhir dalam diri Kael. Tatapannya langsung menggelap, penuh gairah yang sudah lama ditahan. Dengan satu gerakan cepat, ia membalik posisi mereka. Tubuh Althea kini terbaring di sofa panjang, dan Kael menindihnya tanpa melepaskan ciuman. Tangan Kael menyusup ke balik baju tidur tipis Althea, meremas payudaranya dengan kuat hingga Thea melengkung dan mengerang keras ke dalam mulutnya. Jempolnya mengusap puncak yang sudah menge
Read more