Setelah sentuhan Kael berhasil menenangkan Althea, barulah ia membiarkan istrinya membahas masalah Damar lagi.“Kamu sudah lebih tenang, Sayang?” tanya Kael sambil mengusap punggungnya pelan.Althea mengangguk, lalu mengelus pipi Kael dengan lembut. “El, maaf kalau tadi aku terlalu emosi. Aku nggak mau kamu berpikir aku masih—”“Sstt.” Kael meletakkan jari di bibirnya. “Kamu boleh marah. Kamu boleh jijik. Kamu boleh sakit hati. Semua itu wajar, Thea. Aku nggak pernah salah paham.”Althea menghela napas panjang. “Zayyan… dia gila banget, El. Aku nggak nyangka dia bisa sejahat itu sama orang lain.”Kael tertawa pendek, tapi suaranya dingin dan pahit. “Gila? Dia jauh lebih dari gila, Sayang.”Althea mengangkat wajahnya dari bahu Kael, dahi berkerut. “Maksudnya?”Kael mengusap rahangnya kasar, rahangnya mengeras. Raut wajahnya menunjukkan jelas betapa muak ia dengan apa yang akan dikatakannya.“Awalnya aku kira Damar cuma satu-satunya rahasia busuknya. Ternyata enggak. Penyidik menemukan
Read more