Perjalanan menuju rumah sakit terasa singkat, terlalu singkat untuk ukuran kepanikan yang memenuhi dada Kael. Ia tidak benar-benar mengingat bagaimana ia sampai di sana. Yang ia rasakan hanya tubuh Althea yang semakin panas di pelukannya, napasnya yang tidak teratur, dan wajah pucat yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Begitu sampai, semuanya bergerak cepat. Perawat langsung membawa Althea ke ruang tindakan. Kael berjalan di samping brankar dengan langkah lebar, sementara Zayyan mengikuti di belakang, diam, mengamati tanpa banyak bicara. Di dalam ruang periksa, dokter segera melakukan pemeriksaan awal. Suhu tubuh Althea tinggi, denyut nadinya cepat, dan tubuhnya tampak sangat lemah. Ketika perawat mencoba mengajaknya merespons, Althea hanya membuka mata sebentar lalu kembali terpejam. Dokter mengernyit, lalu mulai bertanya singkat sambil memeriksa. “Sejak kapan kondisinya seperti ini?” “Sejak tadi malam,” jawab Kael cepat. “Dia demam, lemas, dan nggak responsi
続きを読む