Malam harinya, rumah dua lantai di pinggiran Jakarta itu tampak sunyi namun dijaga ketat oleh tim Bayu. Di ruang tengah, Kael, Althea, dan Om Krisna kembali duduk bersama Damar untuk mematangkan persiapan sidang berikutnya. Damar tampak jauh lebih tenang dibanding saat pertama kali diselamatkan dulu, meski sisa-sisa trauma di wajahnya belum sepenuhnya hilang. Di atas meja, beberapa berkas dokumen dan laptop dalam posisi terbuka. "Semua poin yang pernah kamu jelaskan saat interogasi waktu itu sudah dirangkum oleh tim hukum kita, Damar," buka Kael, memecah keheningan dengan suara rendahnya yang tegas. "Malam ini kita hanya perlu memastikan tidak ada satu pun detail yang meleset untuk kesaksianmu minggu depan." Damar mengangguk pelan, melirik berkas di depan Kael. "Saya paham, Pak Kael. Saya sudah siap. Semua yang saya katakan sebelumnya tentang bagaimana Zayyan memaksa saya membuat akun fiktif itu... tidak ada yang berubah. Saya pegang kata-kata saya." Althea menatap Damar denga
Read more