Sementara itu, di balik dinding-dinding beton yang kokoh dan dingin di rumah tahanan, Zayyan masih duduk terpaku di kursinya. Pengacaranya sudah pergi beberapa menit yang lalu setelah menyelesaikan sesi konsultasi yang paling menegangkan selama karier mereka. Namun, Zayyan masih enggan bergerak kembali ke selnya.Nama Damar terus berdengung di telinganya seperti dengung lebah yang mengganggu. Pria yang selama bertahun-tahun selalu berada di bawah kendalinya, pria yang selalu menuruti apa pun perintahnya bahkan yang paling kotor sekalipun, kini telah berbalik arah menjadi belati yang siap menikamnya dari belakang.Zayyan tertawa pendek, sebuah tawa kering yang terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan sepi itu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menjernihkan pikirannya yang mulai kacau. Keangkuhan yang selama ini ia agungkan perlahan-lahan mulai retak, menyisakan rasa cemas yang amat sangat."Damar… berani-beraninya kamu," gumam Zayyan dengan nada suara yang rendah namun
Read more