Althea menggeleng pelan, lalu jemarinya yang gemetar menarik tengkuk Kael agar pria itu kembali menunduk. Ia menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, seolah ingin menelan semua rasa pahit masa lalunya melalui napas Kael. Begitu pagutan itu terlepas, Althea menatap Kael dengan mata yang masih basah, namun kali ini ada binar kelegaan di sana. "Nikmat sekali, El, sampai aku menangis," bisik Althea parau, suaranya nyaris hilang di antara deru napas mereka yang saling beradu. "Baru kali ini aku merasa … benar-benar diinginkan." Tangan Kael menyusup ke bawah punggung Althea, mengangkat pinggul wanita itu agar mereka bisa menyatu lebih dalam lagi. "Ahh! El … pelan-pelan," desah Althea sambil mendongak, merasakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh sarafnya. "Aku tidak bisa pelan jika kamu terus menjepitku seperti ini, Sayang," sahut Kael dengan geraman yang sangat jantan. Althea memekik keras saat gelombang kenikmatan itu kembali menghantamnya berkali-kali. Ia merasa d
Read more