Mobil sudah berhenti di depan vila. Mesin dimatikan, suasana langsung sunyi, hanya menyisakan napas yang masih terasa berat di antara mereka. Althea tidak langsung turun. Ia tetap duduk, punggungnya bersandar, sementara tangannya masih berada dalam genggaman Kael yang hangat dan mantap. Kael menoleh, menatapnya lebih lama. "Kamu masih tegang," ucapnya pelan. Althea menghela napas, lalu menggeleng tipis. "Bukan tegang. Lebih ke muak. Tadi dia dekat saja rasanya ingin menjauh." Kael tidak menjawab panjang. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Althea, mengarahkan wajah itu agar menatapnya. "Lihat aku." Tatapan mereka bertemu. Tidak ada jeda. "Di sini tidak ada dia," lanjut Kael, suaranya rendah dan pasti. "Kamu tidak perlu menahan apa pun." Kalimat itu seperti memutus sesuatu di dalam diri Althea. Napasnya berubah. Kael mendekat, menempelkan bibirnya di kening Althea, lalu turun perlahan tanpa tergesa. Sentuhannya tidak terburu-buru, tapi cukup untuk membuat Althea memejamkan mata
Read more