Zayyan tersenyum canggung, lalu tertawa sumbang. “Mana mungkin, Kael. Althea ini cinta mati padaku. Dia sama sekali takkan tertarik dengan pria lain, pria manapun,” katanya. Entah itu candaan atau keseriusan, yang jelas Althea merasa mual. Perutnya seperti dipelintir. “Benar begitu, Althea?” tanya Kael seolah sengaja, suaranya ringan tapi tatapannya tajam. Althea hanya terdiam, tidak menjawab. “Jangan ditanya, El,” potong Zayyan cepat. “Dia takkan mau jujur. Pasti dia malu mengakuinya.” Althea menghela napas pelan, berusaha menjaga ekspresi tetap datar. Tiba-tiba Mama Zayyan muncul dari arah pesta, senyumnya lebar dan sok ramah. “Oh, Kael, maaf ya kalau Althea bikin suasana tidak enak tadi. Dia memang orangnya kurang menyenangkan kalau bertemu orang baru. Kadang suka pendiam dan sulit diajak bicara.” Kael menatap Mama Zayyan dengan tatapan tajam. “Saya tidak berpikir demikian, Tante. Sekedar informasi saja, saya mempertimbangkan investasi ini juga karena merasa
Read more