Zayyan terhuyung ke belakang, tangannya langsung memegang pipi yang memerah dan bengkak. Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya. Kael menatap tangannya sendiri dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat. “Astaga, parah juga. Bibirmu berdarah, Zay.” Zayyan menjawab dengan suara parau tapi langsung ke pokok perkara. “Tidak masalah, El. Yang penting kamu mau tanda tangan.” Ia maju selangkah lagi, suaranya bergetar putus asa. “El, kumohon… apa tidak bisa kamu tanda tangani ini? Apa harus tetap ada Thea? Kenapa, El?” Kael berdiri tegak, ekspresinya tetap tenang dan profesional. “Karena sesuai kesepakatan awal, kontrak ini harus ditandatangani oleh pihak keluarga Althea secara langsung. Tanpa kehadirannya, dokumen ini tidak sah. Itu syarat mutlak.” Zayyan mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan. “A-Ada, Thea ada di rumah tapi dia sakit. Dia nggak sehat, jadi semoga kamu mau ya, pikirkan lagi, El.” Kael menatap Zayyan dengan tatapan tajam. “Wah, Thea s
Read more